Catatan di 2020

Goa Gong, Rabu, 22 April 2020 hampir tengah malam

Despite of uncertainties also boredom, indeed there many things I should be grateful, the fact I am healthy, still have a job while one of my counterpart early this week on Monday lost her job and it is shocked us, I am now more actives in doing almost regular sports at home, tried to cook and so far beyond edible :P, mom – sisters – nephews – nieces also relatives are all okay…and from time to time I can still can have a quick getaway to have my coffee.

There is nothing like this year…it has been emotionally draining, as you are pretty confuse with almost anything.

But I am glad I have pretty strong support system…and I am thanking all of my beloved silly friends.

It’s almost midnight, as usual I am listening to radio…and mind wander…

Hope we have better days ahead…

Besok curhat cinta cintaan ah

Catatan di 2020

Goa Gong, Senin 20 April 2020

In few years from now or perhaps a year from now, 2020 will be remembered as the hardest year ever.

Hampir tidak ada kepastian, yang pasti hanya ketidakpastian.

I keep chanting “this to shall pass away” and one day soon we’ll free.

In the meantime, we’ll take care each other thru virtual hugs & kisses.

Bismillah!

 

The Sunday Life

Just another random things to say on Sunday afternoon,

2019, seems such a pretty busy year, I am talking about my own plans here not work related, as work is work lah bok!

Let’s start from an Airbnb project in Yogyakarta, I dunno why I suddenly agreed on making it into a reality in 2019, the anxiety and excitement are all over places, Lost & Wander my linen lines for men now also for women also in 2019.

May God grant me with His strength and much love, may everything falls into right places as I expects.

Bismillah!

A Design Hotel, Artotel Jogja (a super latepost!)

Expect something like cool  mural and art exhibition or just plain cool interior, Artotel Jogja recently opened for business and it resonance a hip design hotel in the middle of Jogjakarta.

Seminggu yang lalu, I decided to have a long weekend getaway to Jogjakarta, and stayed at Artotel Jogjakrata due to couple of my fave hotels was fully booked…tapi rupanya keputusan tepat karena I just love the concept of Artotel Jogja, yes it is a typical city hotel but this one with a twist…

IMG_6429

Lobby Artotel Jogja sebenarnya tipikal city hotel seperti pada umumnya hanya saja terlihat berbeda karena pattern pada lantai juga mural yang berwarna dan playful dibelakang receptionist desk, perhatikan bagian langit-langit sengaja memiliki semacam instalasi yang terbuat dari anyaman rotan sintetis, berdasarkan keterangan Sales Executive nya konsep design Artotel Jogja memang terinpisrasi dari anyaman, sehingga ornamen anyaman pun melingkupi seluruh exterior hotel bertingkat ini.

Hal lain yang menarik diperhatikan di lobby adalah adanya brass slide alias prosotan berbentuk spiral bebahan tembaga keemasan dari lantai mezzanine ke lobby area and yessss you can also use this slide by the way…they will give you a piece of cloth to ride on so it will be much easier for you to slide…

img_6462.jpg

Masih di area lobby, sengaja disediakan area untuk exhibition jikalau ada event seni, juga dibagian sudut sebelah kanan terdapat sebuah merchandise shop, menjual Artotel merchandise atau kain kain seperti kain batik misalnya.

DI area lobby tepat disebelah receptionist diletakkan sebuah kursi anyam sintetis berbentuk seperti kertas lipat, dimana orang bisa duduk atau tidur bahkan sambil menikmati exhibition di areal tersebut, cukup menarik kursi ini karena sangat besar dan berbentuk seperti crumpled paper!

Ada bagian yang menarik untuk dijadikan background foto alias instagramable, sebuah tangga darurat yang menghubungkan lobby ke lantai selanjutnya yang tembus ke resto, tangga diwarnai seperti cat tembok yang bleberan 🙂

IMG_6010

Artotel ini memiliki beberapa outlet, seperti Rocca dan BART alias roof top bar yang pada saat kesana belum dibuka, Rocca sendiri melayani breakfast jika pagi hari, dan buka 24 jam, so for those who wants some comfort food or munching something late night you might want to consider this restaurant, with pretty cool interior I might say.

Terbagi menjadi dua bagian Rocca ini, indoor dan semi outdoor, indoor diisi oleh large art installation which is bold and colorful, mixed with their signature chairs made from tali plastik warna warni mengingatkan kursi jaman 80an.

IMG_6461

And how about the bedroom, better ask the one that overlooking to majestic Mount Merapi, sebuah hiburan tersendiri ketika bangun pagi…apalagi pas cuaca cerah.

I like the way the bed felt, not too soft not too hard, just perfect…the room also pretty spacious, clean and for sure you’ll see some murals.

IMG_5966

All & all loving this Artotel Jogja…

IMG_6108

#artoteljogja #artotelhotels #jogja #yogyakarta #travel #traveling #traveler #travelgram #liburan #hotel #cityhotel #lostandwander1976

Tidur Di Ruko Jaman Belanda di Kota Lama Semarang

Tahun ini kembali bisa jalan jalan ke kota favorit di Jawa, Semarang, Jogja, Solo…sebenarnya udah lama sih traveling nya cuman baru sekarang bisa kejadian nulis nya…se perhaps let’s mengingat-ngingat kembali apa yang Saya lihat dan rasa.

Sudah lama ingin tinggal di airbnb di kawasan Kota Lama Semarang ini, nama airbnb nya Spiegel Studio Home, yeappp nama yang sama dengan sebuah bar atau bistro terkenal di Semarang yang menempati bangunan cagar budaya, Spiegel Bistro, dan akhirnya kemarin kejadian juga stay disana…and I just loved it!

IMG_1618

Sepertinya ruko atau shophouse ini dibangun pada abad 19, dilihat dari struktur bahkan lantai kayu dan langit-langitnya, namun entah pastinya kapan.

Menempati lantai 2, Spiegel Home Studio ini memiliki luas yang maha luas untuk ukuran airbnb untuk kapsitas 3 orang, karena menggunakna hampir 3/4 bangunan lantai 2 ruko tua ini.

Interior di desain dengan hangat dan modern, tidak ada kesan tua sama sekali, mungkin supaya tamu yang menginap tidak merasa takut yah dengan interior bergaya Eropa/Amerika ini…gambar di bawah ini adalah tangga kayu tua menuju ke lantai 2, pretty instagramable right? Haha…me personally love this staircase…classic!

Layout sebenarnya sangat sederhan, terbagi menjadi 4 ruangan berbeda, ruangan besar yang terbagi menjadi living room tempat nonton tv, dapur dengan island nya yang menyenangkan dan kulkas semavma SMEG (tapi bukan SMEG sih ahaha), dan tempat makan dengan meja yang cukup buat rame rame.

 

Ruangan lain adalah patio luar tempat hangout cuman karena ini di wilayah deket laut dan typically Kota Lama Semarang punya saluran air yang kurang baik jadinya banyak nyamuk kalo nongkrong di luar.

IMG_1612

Bagian lain adalah kamar mandi yang luas berada agak naik, dramatis dengan hiasan tirai dibalik sliding door dua pintu, super spacious and yeappp super clean!

Nah bagian yang ditunggu adalah tentu kamar tidur yang luas lengkap dengan lemari memanjang dan sofa dan rug berbulu, kamar ini menghadap ke jalan tepatnya memandang bangunan kosong yang sebenarnya akan bagus kalau tidak ada karena bisa langsung melihat indahnya Gereja Blenduk.

Kamar nya menyenangkan dan hangat, ranjang queen size, sofa, lemari yang cukup untuk baju tinggal sebulan hahha…dan AC yang dingin…dan gak usah takut karena kamr ini berada menghadap langsung ke jalan jadinya tidak terasa sepi, bahkan masih bisa mendengarkan (kadang-kadang) security yang sedang jaga lagi ngobrol…jendela panjang kaca sepanjang kamar ini pun membantu kamar ter-expose cahaya yang banyak.

IMG_1606

No need to be scared of ghosts if you plan to sleep over at some old buildings, just think about those beautiful tiles and structure 🙂 somehow it’s relaxing!

Here at Spiegel Home Studio, worry no more as the security guards will be around 24 hours yet the Spiegel Bar closed at midnight, so you can still hear people chit chatting.

All and all I will definitely stay here again, only setelah perbaikan paving block di Kota Lama Semarang ini selesai…berdebu banget bok! Hahaha

#kotalamasemarang #semarang #spiegelhomestudio #spiegelbar #oldshophouse #oldbuilding #heritagebuilding #heritage #saveheritage

Sipping Coffee by The River (read : daydreaming!)

Almost 1 PM, just another lazy day in Siem Reap…back here after almost a year and back again to write what ever in my mind after a while!

Frankly, I have no idea to write, perhaps I’m just gonna mumbling here…haha well shall we just begin from the fact that this is December? The last month of the year, indeed!

Here comes December 2018, last month of the year, yet of course I just have to finish up the leftover on my work plan this year…so here I am now in Siem Reap…trying to finish up what is left, and ending with much work to do for next year tho…but I am glad that I can visit again this “hometown”

Gila ya setahun itu lewat udah kayak apaan tau, cringgg udah December lagi…no regrets sih biasanya…I guess towards end of the year I have made few things tho, a bold moved to invest in Jogja, remaking my “mati suri” label, reproducing Maison Mono…ok ok lumayan lah ya…walau rasa nya atau emang gak maksimal pergerakan nya…lambattt banget!

Dan yasss I went to visit London!!!

Soal cinta? Masih sama…masih gitu, masig entah, masih buram, masih belum moving on…oh my…bicara soal hati itu berat…apalagi klo hati nya penuhhh banget sama melodi memory hahhaha…

Cinta oh Cinta…entah kemana itu yang namanya cinta…hidup enggan mati tak mau (amit amit sih kalo mati mah) ngomongin ini mah gak ada abisnya karena ya emang ga ada kemajuan aja sih hahaha gituuu aja…bangke emang hahaha yah moga 2019 mah cerah secerah bisnis bisnis nya lah!

One more night, then I will be home…

Random Nights

Some night can be so random, just like tonight…

Ke Denpasar untuk pelipur lara, lara karena kerjaan itu kalo gue, yang satu lara karena hati nya sedang terhempaskan #tsaaahhhhh

Kalo hati lara kemana yah? Ya jalan atau cari tempat ngopi lah…kali ini motor membawa kami ke Denpasar, ada coffee shop yang dilihat dari akun intagram-nya pretty good looking without being too much yah…a best friend just forward me their IG account…and voila after office hour we went here…to seek coffee and some other random conversations…random banget, mulai teori psikologi sampe kopi sampe logo ni tempat ngopi sampe apalagiiiii klo membahas lara hati sahabat Saya ini…hahhah

Oh tulisan ini pun amat sangat random…

MITOS KOPI itu nama tempat nya…I kinda fell in love at the first sight…those warm lighting on concrete walls and wooden furniture and a blue bicycle parked just in front of this coffee shop…just stole my weary eyes….#tsaaahhhh lebay dan random but I do love it at the first sight.

IMG_6517

Hot latte and iced cappuccino was our random drinks…well not so random tho…hahaha…this coffee shop way just too cute, it reminds me of some coffee shops in Japan or Sukhumvit area in Bangkok…a simple one yet warm to the eye…

How about their coffee? Hummm I might say, not bad at all…I’ll come back and try again some more coffee later…other thing that I like is their playful yet innocent logo…3 little girls playing under the tree…too adorable!

FullSizeRender

One corner just under the MITOS KOPI signange was our fave, the street indeed it noisy but then, who cares as long as we have a good random conversations right? Hahah…

IMG_6520

I love how Denpasar now becoming more attractive for locals…many cafes with pretty cool concept…

Anyway…let’s wander again while overhearing these people hahha

#mitoskopi #coffeeshop #ngopidibali #kopi #kopibali #denpasar #randomnights #randomthoughts #fridays #weekend #cafe #coffeeshopinbali #weekend #balilife #islandlife #nakbali #jaenidupdibali

Wandering Around By Night On Jalan Malioboro

Blessing in disguise ceritanya, malam itu Saya bertolak dari Artotel Jogja untuk menemui sahabat di Oxen Free Bar di Sosrowijayan dengan ojek online…dapet Bapak yang nyetir motornya kayak kesurupan…plus pake motor manual…hajar sana sini…akhirnya Saya memutuskan untuk turun ditengah jalan…yeap literally in the middle of the street depan Stasiun Tugu…tapi ternyata gara-gara Bapak ini Saya jadi sempat jalan dan melihat beberapa bangunan tua di malam hari, matur nuwun Pak hahha

Stasiun Tugu Yogyakarta, didirkan pada tahun 1887 merupakan stasiun terpenting pada saat itu dan sampai sekarang…dahulu bentuknya tidak seperti sekarang ini, langgam arsitektur nya khas tahun 1800an akhir bergaya Neo Klasik, dengan baluster dan ornamen dekorasi klasik lainnya.

Foto dokumentasi Kassian Cephas, Stasiun Tugu tahun 1890an

Stasiun Tugu diprakarsai oleh Staatspoorweg (SS) yang menghubungkan jalur dari Batavia dan Cilacap ke Yogyakarta, namun memang pada akhirnya Stasiun Tugu melayani 2 perusahaan jawatan kereta api Hindia Belanda saat itu yakni Staatspoorweg (SS) dan Nederlandsch Indisch Staatspoorweg Maatschappij.

Menurut catatan Stasiun Tugu banyak disinggahi oleh orang penting dibanding Stasiun Lempuyangan (1872) yang lebih dahulu berdiri, mulai dari Gubernur Jendral Hindia Belanda, Sultan Surakrata dan Presiden Soekarno.

1. Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborough di Stasiun tugu

Tahun 1920an Stasiun Tugu mengalami perubahan langgam yang signifikan yang bertahan sampai sekarang, Art Deco adalah langgam arsitektur yang paling kekinian pada saat itu, sehingga Staatspoorweg kemudian mengubah nya disesuaikan dengan trend yang ada, renovasi dilakukan dibawah F. Cousins kepala Bouwkundig Bureau milik SS (Blog Jejak Kolonial).

Ciri khas Art Deco dengan garis-garis lugas berulang, tipikal kaca patri yang juga bergaya geometris menghiasi fasad depan, yang menggembirakan adalah bawah baru-baru ini Stasiun Tugu mengalami restorasi, dan sudah dibuka kembali, semua detail masa lalu dipertegas, pencahyaan diatur sedemikian rupa sehingga menonjolkan detail arsitektural stasiun ini.

IMG_6111

I would say, I was the happiest camper seeing this beautiful old building came to life again…cukup lama Saya bolak-balik keluar masuk stasiun ini hanya karena saya kagum dengan restorasi yang dilakukan…cukup rapi, penambahan beberapa hal baru seperti signage modern amat sangat tidak menggangu pemandangan bahkan sepertinya complimenting each other in a very good way.

Design bagian depan dibuat sanat simetris, kanan kiri memiliki detail yang sama, kaca patri menghiasi bukaan kecil di kanan kiri fasad depan, sekarang kaca patri tersebut disorot penerangan sehingga dari kejauhan sangat indah dilihat, diatsa jendela tersebut terdapat ventilasi terbuat dari susunan bata berongga khas masa lalu…

IMG_6115

Bagian tengah adalha gerbang masuk ke stasiun, fasad depan dihiasi kembali dengan deretan kaca patri, simple and modern yet grand…ada 6 panel kaca patri disana memanjang tepat berada diatas kanopi beton dengan detail geometris berundak, naik ke atas sedikit terdapat jam dinding letaknya tepat ditengah, kembali detail geometris menghiasai kanan kiri jam tersebut, hal yang menyenangkan adalah deretan kaca patri tersebut sekarang disorot penerangan dari bagian dalam gedung sehingga kita bisa melihat warna-warni kaca patri dari luar dengan indah…well I might say it’s kinda romantic.

IMG_6112

Bagian dalam gedung utama ini juga mengalami restorasi, lengkungan demi lengkungan beton di cat kembali, tata cahaya pun kembali diperbaiki, kesan yang tercipta adalah ruangan yang tinggi dan besar.

IMG_6126

Jika diperhatikan di area dalam diantara ventilasi terdapat juga deretan kaca patri, mungkin akan lebih indah jika kaca patri ini di sorot lampu dari luar sehingga kita yang ada di dalam ruangan ini pun bisa menikmati warna-warni dari kaca patri tersebut, area luar dari gedung utama ini di kann kiri terdapta deretan kaca sama besar sebagai ventilasi sehingga udara tidak pengap, masih bisa dilihat bahwa kac ayang mereka gunakan masih kaca dari masa lalu…kaca buram bertekstur, sangat menyenangkan untuk dilihat.

Perjalanan ke arah Jalan Sosrowijayan Saya sempatkan mampir ke Grand Inna Malioboro, dulu namanya Grand Inna Garuda, di malam hari ternyata hotel ini sangat menyenangkan untuk dilihat, efek pencahayaan sangat berpengaruh, terutama meng-highlight deretan kaca patri nya yang indah.

Grand Inna Malioboro, hotel ini dahulu bernama Grand Hotel te Djokdja didirikan pada tahun 1911, dahulu kemungkinan memiliki langgam Art Nouveau, namun seiring dengan demam Art Deco kemudian tahun 1938 berubah bentuk menjadi Art Deco yang bertahna hingga saat ini.

ac8d2a3ae57bf3b75dc6dc93865ea4c7

Dan menurut catatan hotel ini berganti nama cukup sering, dimulai dengan Grand Hotel te Djokdja kemudian berubah menjadi Hotel Asahi di jaman Jepang, kemudian berubah lagi pada era kemerdekaan menjadi Hotel Merdeka, dibawah ini foto yang diambil oleh Charles Breijer pada masa setelah 1945, ketika hotel ini bernama Hotel Merdeka.

980x

Malam itu Saya sangat menikmati cahaya penerangan yang keluar dari kaca patri baik di gedung utam amaupun gedung kanan dan kiri, pola khas Art Deco menghiasi jendela, bahkan kanopi pun terbuat dari kaca patri yang cukup njelimet, berwarna-warni seperti melihat lampu disco.

IMG_6132

Di fasad bangunan utama yang merupakan area lobby kita bisa melihat ada banyak panel kaca patri disini, mulai dari yang polos hingga berwarna warni, sayang kanopi asli sepertinya dihilangkan dan diganti dengan portiko baru yang jauh lebih panjang untuk mengakomodir mobil yang drop off para tamu, seharusnya kanopi memiliki pola yang sama dengan kanopi yang berada di bangunan sayap kanan dan kiri.

IMG_6133

Ternyata jalan malam menyusuri Jalan Malioboro yang sangat mainstream bagi turis lokal terutama ini menyenangkan, kabarnya satu bulan sekali Jalan Malioboro dikosongkan dari kendaraan dan pedagang kaki lima…Saya lupa setiap hari Jawa apa itu, dan kabarnya juga setelah renovasi trotoar sepanjang Jalan Malioboro ini selesai, kendaraan tidak diperkenankan masuk, hanya pejalan kaki saja yang diperbolehkan masuk kesini….INDAH!

#jogja #jogjakrata #yogya #yogyakarta #jalanmalioboro #wanderlust #travel #traveling #traveler #travelgram #travelblog #sejarah #history #heritage #saveheritage #cagrabudaya #bendacagrabudaya #bangunankolonial #dutcheastindies #hindiabelanda #arsitektur #architecture #oldbuilding #hotel #stasiuntugu #keretaapi #railwaystation #grandinnamalioboro

Ndalem Notoprajan di Yogyakarta

Liburan kali ini ke Yogyakarta, Saya mengunjungi sebuah rumah besar yang letaknya dekat dengan Kraton, disebut Ndalem karena rumah ini adalah rumah salah satu Pangeran, rumah besar berumur lebih dari 200 tahun ini masih berdiri dan ditempati oleh masih salah satu keturunannya.

IMG_6051

Ndalem Notoprajan diperkirakan dibangun pada tahun 1811 (menurut peta Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1811, Ndalem Notoprajan sudah ada), oleh pihak Kraton diberikan kepada GPH Notoprojo, dilihat dari pohon keluarga GPH Notoprojo adalah keturunan dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI & VII, sehingga tempat ini di sebut dengan Ndalem Notoprajan.

Setelah beliau wafat, Ndalem Notoprajan kemudian ditinggali oleh adik beliau yakni GKR Maduretno dan sekitar tahun 1950an kemudian diserahkan pada GPH Hadidjoyo oleh karena itu disebut juga dengan nama Ndalem Hadiwijayan.

IMG_6050

Pada masa GPH Hadiwidjaya, beliau dan keluarga tidak menempati Dalem Ageng, melainkan mereka tinggal di bangunan sebelah kiri dan kanan daripada Dalem Ageng tersebut.

Ndalem Notoprajan memiliki area sangat luas, masuk melalui sebuah regol, disebelah kanan kita akna mendapati sebuah pendopo yang luas berwarna dominan krem kehijauan.  Ndalem Notoprajan dibangun dengan memakai aturan tata letak rumah Jawa, mengikuti orientasi kosmologis Kraton Yogyakrata mengarah selatan-utara.

IMG_6061

Setelah pendopo terdapat Dalem Ageng yang merupakan hirarki tertinggi dalam tata letak rumah Jawa, disini adalah area privat dari keluarga inti, di dalam Dalem Ageng terdapat 3 ruang privat lain yang disebut sentong, sentong kanan dan kiri untuk tidur keluarga inti sedangkan sentong ditengah untuk pemujaan.

Disamping kanan dan kiri bangunan utam aterdapat gandok kiwa dan gandok tengen yang dihuni oleh para keluarga kerabat, sekarang nampaknya ditempati oleh warga dengan cara menyewa beberapa bagian.

Sangat disayangkan banyak bagian kurang terurus dengan baik, sekarang Ndalem Notoprajan selain digunakna untuk tempat tinggal kerabat Pangeran juga untuk bermacam kegiatan organisasi.

Bagian teras Dalem Ageng sekarnag menjadi ruang tamu dengan furniture yang sekena-nya, disebelah kanan ada lukisan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII didepannya daa deretan piala-piala dipenuhi debu dan sarang laba-laba.

Melongok dari ventilasi kaca ke dalam Dalem Ageng, kita bisa melihat betapa detail indah masih bisa disaksikan didalam sana, sayang tidak bisa masuk karena hanya dibuka satu tahun sekali…konon didalam sana ada bagian tembok yang jebol bekas tendangan GPH Notoprojo ketika beliah marah kepada Belanda (GPH Notoprojo adalah pendukung setia Pangeran Diponegoro).

Berjalan mengelilingi areal ini, rasanya seperti melihat rumah besar sarat sejarah yang menunggu waktu untuk silam…bagian belakang dari Dalem Ageng nampak sudah rusak walua masih berdiri tegak, halaman bagian terbelakang dahulu pernah dijadikan kos-kosan…sisa kamar sekarang masih ada hanya saja dipenuhi semak belukar dan menunggu runtuh.

Bagian-bagian gedung sebenarnya ada banyak yang masih bisa diselamatkan, direstorasi dan dihidupkan kembali…hanya tentu dibutuhkan dana dan courage atau kekuatan yang besar untuk kemudian bisa menghidupkan kembali Ndalem indah ini.

IMG_6023

Semoga saja suatu hari nanti Ndalem Notoprajan bisa kembali dilestarikan dan dipugar untuk kemudian digunakan sebagai tempat belajr sejarah, arsitektur dan seni.

#ndalem #ndalemnotoprajan #yogya #yogyakarta #ngayogyakarta #jogja #jogjakarta #sejarah #mansion #javanese #javaneseroyalfamily #arsitektur #architecture #heritage #saveheritage #cagarbudaya #bangunancagrabudaya #oldmansion #oldbuilding #javnaesearchitecture #gphnotoprojo