Istana Kecil di Temanggung

10428156_1105541156122954_1114168762319610313_o

On our way to Parakan, we made stops in Temanggung, another small town in Central Java with charming colonial buildings here and there.

Temanggung sendiri dahulu merupakan bagian dari Karesidenan Kedu, dahulu namanya adalah Kabupaten Menoreh, nama berubah menjadi Temanggung dikarenakan beberapa hal salah satu nya adalah dikarenakan di Magelang juga ada sebuah daerah bernama Menoreh, kemudian berdasarkan Surat Pemerintah Hindia Belanda 10 November 1834 berubah menjadi Kabupaten Temanggung.

Anyway, Saya ingin menceritakan sebuah rumah di jalan besar di Temanggung ini, tepatnya di Jalan Diponegoro pas disebuah sudut di perempatan terdapat rumah seperti istana kecil, rumah ini sangat mencolok dikarenakan skala yang dan desain arsitekturnya mengingatkan kita pada sebuah istana kecil.

Rumah yang berumur hampir 150 tahun ini bercat putih dengan ornamen biru mengihiasi di setiap sudut, halamanya luas, bangunannya berada di tengah-tengah, jarak antara rumah ke jalan besar cukup lebar sehingga rumah terlihat begitu indah.

IMG_6280

Dihimpun dari berbagai tulisan termasuk dari teman baik sesama pecinta rumah tua yakni Mas Sigit melalui IG account nya @vintage_colony, rumah ini dibangun pada sekitar tahun 1870 (148 tahun…amazing!) dibangun oleh saudagar rembakau kaya raya bernama Lie Tiauw Ing, rumah ini memiliki langgam Indische Empire Stijl sebuah langgam yang sangat digemari Gubernur Jendral masa itu yakni Hermann Willem Daendels, pada masa itu Kerajaan Belanda berada dibawah kekuasaan Kekaisaran Napoleon sehingga hampir semua bangunan diwilayah kekuasaan Kekaisaran Napoleon termasuk Hindia Belanda mengadaptasi langgam ini, langgam yang menunjukkan gaya Prancis.

Rumah indah ini masih dimiliki dan dijadikan rumah tinggal keturunan dari Lie Tiauw Ing, Bapak Kuswanto Setjodiningrat yang merupakan keturunan ke-7 adalah pemilik rumah ini sekarang, beliau tidak berbisnis tembakau seperti leluhurnya melainkan sekarang beliau sukses berbisnis gas LPG (elpiji) dan Pom Bensin.

IMG_6284

Rumah ini layak disebut sebuah Istana Kecil di Temanggung, details yang luar biasa masih terjaga, sangat menyenangkan untuk diperhatikan.

Empat pilar kokoh penopang beranda depan, ornamen sepanjang kanopi maupun disekeliling rumah, penopang kanopi yang terbuat dari baja yang melengkung, hingga lampu chandelier yang menggantung di teras rumah menambah kesan anggun pada rumah hampir berumur 150 tahun ini.

Ada beberapa set kursi disini dan beberapa pot berisi tanaman hijau menghiasi beranda termasuk dua candelabra di kanan kiri pintu bagian tengah, seperti biasa rumah kolonial memiliki desain yang simetris,  pintu sama besar berderet dengan daun pintu yang berlapis, satu terbuat dari kayu berongga dan lapisan kedua daun pintu berkaca.

Sayang, Saya tidak bisa menemui Pak Kuswanto Setjodiningrat yang kabarnya sangat ramah dan suka sekali bercerita tentang keluarganya ini, beliau pada saat itu sedang berada di kantor nya yang tidak jauh sebenarnya dari rumah ini.

Saya hanya bisa mengintip lihat lewat jendela besar di sisi kanan dan kiri rumah indah ini, terlihat nampaknya pengaturan interior di dalam rumah pun dibuat simetris, terdapat 2 cermin besar di dinding khas kolonial dan lampu kristal menggantung dan hanya bisa mengagumi sampai di teras besar dan terawat.

IMG_6281

Pada masanya mungkin memang ini termasuk rumah termegah, cukup menarik memperhatikan arsitektur yang dipilih karena biasanya keluarga berdarah Peranakan lebih menyukai gaya Tionghoa atau ruko/shophouse daripada bentuk yang jaul lebih Eropa.

Bangunan bagian kanan kiri dan bagian belakang, nampaknya memiliki bantuk yang jauh lebih modern, tetapi sama sekali tidak mengganggu keindahan rumah utama, karena Sang Pemilik memilih warna dan tinggi bangunan yang tidak mencolok dan juga jarah antara bangunan baru tambahan ke rumah utama cukup lebar.

Semoga rumah indah ini terus lestari, dan Pak Kuswanto Setjodiningrat diberikan kesehatan sehingga rumah ini bisa terus dikagumi sepanjang masa!

#temanggung #kotapusaka #jawatengah #indonesia #heritage #saveheritage #cagarbudaya #bangunancagarbudaya #sejarah #history #story #oldmansion #indischestijl #arsitektur #architecture #chinatown #pecinan #myheritagetrip #lostandwander1976 #wanderlust #travel #traveler #traveling # #travelgram #indischestijl #empirestyle #indischeempirestyle

Omah Tjandie in Parakan

IMG_6337

Pagi itu, sesampai Kami di Parakan, udara segar menerpa…udara khas sebuah daerah di kaki pegunungan…dikejauhan kita masih bisa melihat Gunung Sumbing, area Gambiran memiliki jalanan yang tidak begitu besar tapi mengingat ini adalah kota kecil yah…tapi pagi itu jalanan cukup sibuk dengan motor dan mobil lalu lalang.

We actually have no clue at all where to find the Omah Tjandie or Rumah Kungfu some people says…luckily we met a very friendly old man just near where we parked our car, he was seating just in front of his shop, with his big smiles he welcomed us…”Bapak tau Omah Tjandie?” kemudian Bapak Tua ini kebingungan, tetapi setelah saya menyebutkan rumah Pendekar Kungfu, kemudian beliau dengan ramah menunjukkan arah jalan “Jalan ketiga di sebelah kanan, nanti ada di kanan jalan yah…!”

Berbekal petunjuk dari Bapak Tua dan tentu teman baik sesama pecinta sejarah yakni Halim Santoso, we tried to figure out where is this house, indeed the house from the outside just like any other ordinary house with light brown paint…oh well fortunately people here are so approachable and friendly, so you won’t get lost I might say, just ask them and they will happily to show you where it is.

Singkat cerita kami bertemu dengan Ci Loan begitu beliau memanggil dirinya, mempersilahkan kami masuk dan kemudian bercerita sambil menunjukkan buku yang bercerita kisah Pendekar Kunthaw yang “nyasar”ke kaki Gunung Sumbing, menetap dan kemudian mendirikan perguruan “Garuda Emas”sounds very exotic yah ceritanya…

Kami duduk di teras rumah berusia lebih dari seratus tahun, kira-kira rumah ini dibangun tahun 1850an, sambil membuka-buka buku kisah Pendekar Kuthaw bernama Lauw Djeng Tie (1855 – 1921), dahulu berdasarkan cerita Lauw Djeng Tie “kabur”ke Hindia Belanda dan kemudian mencoba peruntungan sebagai penjual obat, perjalan ini membawa beliau “terdampar” di beberpa kota sebemul pada akhirnya “berlabuh”di Parakan dan tinggal di rumah ini yang merupakan milik Hoo Tiang Bie.

Di rumah inilah Hoo Tiang Bie kemudian memperbolehkan mendirikan perguruan silat khas Tionghoa, Kungfu…masih terlihat dihalaman rumah tua ini besi tua tempat melatih kekuatan tubuh para pendekar, macam alat untuk senam/gymnastic :), di dalam rumah masih tersisa beberapa alat latihan lain seperti pedang dan tombak dan senjata tajam lain…Ci Loan menceritakan bahwa ada banyak yang hilang dikarenakan dahulu para murid kerap lupa mengembalikan setelah latian ūüôā

Sekarang Perguruan Kungfu Garuda Mas sudah tidak menghasilkan pendekar-pendekar Kungfu dari lereng Gunung Sumbing lagi melainkan banting stir membuat kue dan memproduksi minyak oles berwajah Sang Pendekar.

Semoga cerita tentang Pendekar Kunthaw asal Hokkien Tiongkok ini terus diceritakan dari generasi ke generasi, dan semoga rumah ini tetap terjaga dan semoga para keturuannya dari keluarga Hoo Tiang Bie maupun Lauw Djeng Tie tetap ramah dan humble menerima setiap √∂rang asing”yang ingin tau kisah Pendekar Kungfu dari Lereng Gunung Sumbing ini.

IMG_6333

#parakan #kotapusaka #jawatengah #indonesia #heritage #saveheritage #cagarbudaya #bangunancagarbudaya #sejarah #history #story #kungfu #kunthaw #pendekarkungfu #gunungsumbing #oldmansion #indischestijl #arsitektur #architecture #chinatown #pecinan #gambiran #myheritagetrip #lostandwander1976 #wanderlust #travel #traveler #traveling # #travelgram #centraljava #heritage #temanggung

Rumah Gambiran di Parakan

IMG_6296

Rumah Gambiran demikian sebagian orang menyebutnya, tapi ada pula yang menyebutnya Rumah Bhante, karena sejak tahun 2006 rumah ini dimiliki oleh Ekayana Buddhist Centre sebagai tempat kegiatan retreat para bhante atau biksu dari berbagai kota.

This mansion would probably the most well-preserved old mansion in Indonesia, betapa setiap sudut nampak sangat bersih dan terpelihara dengan amat sangat baik, dari mulai cat rumah, lantai, interior dengan perabotannya terpelihara teramat baik.

Rumah Gambiran yang letaknya di area Pecinan di kota kecil Parakan memang letaknya di area Jalan Gambiran, rumah ini unik dikarenakan memiliki 2 langgam yang berbeda dalam satu lingkungan atau compound yang sama, satu rumah berlanggam Indische Stijl dan satu rumah lagi berlanggam Tionghoa yang terpisah oleh courtyard atau halaman tengah sementara kanan kiri bangunan terdapat ruangan-ruangan yang dahulu nya merupakan area service.

Rumah dengan langgam Indische dibangun jauh lebih lama daripada rumah berlanggam Tionghoa, posisi mereka saling membelakangi, satu menghadap utara dan satu menghadap ke selatan.

IMG_6304

Entah didirikan tahun berapa tepatnya rumah bergaya Indische ini, yang pasti pada tahun 1890 rumah ini sudah berdiri megah, seperti dalam buku yang Saya baca berjudul Chinese Houses in South East Asia, rumah ini dahulu dimiliki oleh pengusaha imigran asal Hokkian Tiongkok bernama Siek Tiauw Kie, tentu saja sejarahnya amat sangat panjang yah, hanya saja bisa disimpulkan bahwa rumah ini memang sengaja dibuat untuk mengakomodir keluarga yang cukup besar, dikabarkan Siek Tiauw Kie memiliki beberapa istri berdarah Tionghoa di Parakan sehingga diperlukan rumah yang memadai barangkali untuk menampung keluarga besarnya tersebut.

Rumah bergaya Indische ini menghadap ke Gunung Sumbing di utara gambar di atas adalah teras belakang sebenarnya, yang menghadap ke courtyard, detail bangunan jelas amat sangat menghadaptasi percampuran Eropa, Jawa dan Tionghoa, sangat cantik dan simetrikal, bagian depan rumah ini memiliki 3 bukaan besar yang menghubungkan dengan ruang dalam, bagian tengah diisi dengan ruang keluarga yang memanjang semantara kanan dan kiri berupa kamar kamar yang disekat oleh dinding.

IMG_6325

Teras belakang lebih banyak dihiasi perabotan dibanding teras bagian depan, kemungkinan hal ini dikarenakna area ini lebih banyak digunakan dibanding area teras depan rumah, dua candelabra besar menghiasi pintu bagian tengah, kanan kiri terdapat lukisan dengan frame oval berisi lukisan bergaya Tionghoa, kursi antik menghiasi bagian ini, lampu gantung sengaja memakai lampu gantung bergaya Jawa.

Kita kembali ke teras bagian depan yang menghadap ke Gunung Sumbing di utara, bagian teras depan ini tidak begittu banyak ornamen, lebih terbuka, ditopang bebrapa pilar baja ramping dengan detail khas Indische Stijl, kaopi dihiasi dengan ornamen besi disetiap sisi nya, jika dipikir mungkin tahun pembuatan rumah ini bisa jadi hampir sama masa nya dengan rumah yang dimiliki oleh Pak Kuswanto Setjadiningrat di Temanggung, nanti akan Saya ceritakan yah ūüôā

Dari teras ini bisa memandang dengan jelas Gunung Sumbing dikejauhan, terbayang masa lalu tentu rumah besar ini berdiri hampir tunggal dengan megah dimana Tuan Rumah dan Nyonya juga tamu bisa sambil duduk menikmati secangkir teh hangat dan memandang Gunung Sumbing sambil berbincang…indah!

Sekarang mari kita bicara tentang rumah kedua di Rumah Gambiran ini, rumah kedua berlanggam Tionghoa, rumah ini relatif lebih baru dibanding rumah berlanggam Indische, menurut catatan dibangun sekitar tahun 1905, rumah ini menghadap ke Selatan, ke arah Jalan Gambiran sekarang ini, dari luar rumah ini bahkan terlihat hampir seperti baru, karena memang sang pemilik rumah sekarang ini yakni dua kakak beradik yang adalah Biksu amat sangat memelihara kondisi rumah tua ini.

IMG_6309

Rumah kedua yang berlanggam Tionghoa ini memiliki detail yang juga indah, lebih berwarna, lebih memiliki banyak pattern, sangat Peranakan style…dibanyak sudut terdapat banyak ukiran, porselen yang syarat simbol dan cerita dan tentu sentuhan emas pun menghiasi rumah ini.

Menurut keterangan dari penjaga rumah yang sudah hampir 2.5 tahun bekerja mengurusi rumah ini, biasanya rumah ini dipakai oleh par biksu yang melakukan meditasi atau tetirah dan juga setahun sekali BCA mengadakan acara disini, rupanya bangunan indah ini juga bisa berfungsi sebagai function house.

Pasangan suami istri inilah yang menjaga dan membersihkan Rumah Gambiran, it came again to my surprise even the bedroom while unoccupied they are all very clean…can you imagine cleaning this grand mansion? Must be such dedication…

May this grand mansion lives on forever!

IMG_6237

#parakan #rumahgambiran #kotapusaka #jelajahkotapusaka #wanderlust #traveling #traveler #travelgram #travel #oldmansion #tionghoa #weekender #oldbuildings #oldhouses #architecture #arsitektur #interior #indischewoning #indischestijl #empirestijl #colonialhouse #peranaknastyle #dutcheastindies #dutchcolonialhouse #heritage #saveheritage #cagarbudaya #bangunancagarbudaya #buddhist #chinesehousesofsoutheastasia #indonesia #jawatengah #centraljava #antiques #history #story #myheritagetrip #heritage #temangguang

 

Parakan A Charming Little Town di Kaki Gunung Sumbing

IMG_6288

Ganti rencana itu udah biasa dalam hidup, apalgai ganti tujuan jalan-jalan ūüôā planning kali ini sebenarnya Saya ingin sekali mengunjungi Rumah Martha Tilaar di Gombong, tapi ternyata hari Senin itu tutup sehingga fixed harus ganti tujuan, dipilihlah Parakan, dikarenakan teracuni oleh teman baik sesama pecinta bangunan tua dan sejarah Mas Halim Santoso ūüôā

And I was right, Parakan such a lovable small town filled with friendly people, there was a sense of comforting when I visited this little town yesterday.

Dari Yogyakarta ke Parakan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam dikarenakan we wanted to have an easy and slow trip and made some stops along the way if we saw some old and interesting buildings or even food…we stopped by in Muntilan and Magelang as they also have pretty good looking Colonial Houses and buildings.

IMG_6286

Two things that caught to my attention beside their old, grand and well-preserved mansions are the people within this little town of Parakan, they are all courteous and friendly, very open and somehow you can sense they less judgmental, they smiled at you even the passers even people on motorbikes, they even made some efforts if you asked them for help to show some direction, I felt like in the 80s where Indonesian are so much friendlier and nicer…yet this city has a cool temperature all the way.

The other thing that caught our attention was, how clean all the houses are, they really taking care of their houses and neighborhood, even the abandoned houses their flooring are so clean and shiny.

Ah Parakan, how I love my weekend discovery!

#parakan #temanggung #oldcity #kotapusaka #jalurkotapusaka #sejarah #indonesia #wanderlust #travel #traveling #traveler #travelgram #oldhouses #oldmansion #arsitektur #architecture #pecinan #gambiran #chinatown #tionghoa #dutcheastindies #hindiabelanda #colonialhouses #colonialarchitecture #saveheritage #heritage #cagrbudaya #bangunancagrabudaya #kotacagarbudaya #myheritagetrip #weekender #oldbuildingsaficionado

Sruput Kopi di Rumah Juragan Batik Kampung Kauman

IMG_5137[1]

It was a hot sunny day, we drove from Malioboro by motorbike, panas sekali waktu itu, mungkin karena memang sekitar jam 1 siang, sahabat saya Didit mengajak saya melihat sebuah warung kopi di wilayah Kampung Kauman Yogyakarta dekat Kraton yang menempati sebuah rumah tua yang dia pikir Saya pasti bahagia melihat rumah ini.

Kumpeni Coffee, terletak di Jalan Nyai Achmad Dahlan Kampung Kauman Yogyakarta, sebuah warung kopi sederhana namun menempati sebagian ruanganan rumah tua dan indah, kemudian Saya jatuh cinta!

Dari luar rumah ini nampak seperti sebuah shophouse, dengan deretan jendela kecil memanjang dan pintu utama di tengah, semua serba simetrikal, didominasi warna off white kekuningan (barangkali karena catnya sudah dimakan usia yah?) dan detail berwarna hijau, ada banyak ornamen menarik di rumah tua ini.

IMG_5130[1]

Kumpeni Coffee ini menempati dua bagian depan rumah tua ini, bagian ruang tamu dan ruang keluarga yang kemudian disekat dinding yang memiliki pintu di sebelah kiri, yang merupakan akses ke bagian lain dari rumah ini, yang sekarang bagian tersebut masih di tempati oleh keturunan pemilik rumah ini.

Area penikmat kopi berada di dua ruangan tersebut, bagian depan ditempati oleh 2 set kursi tamu bergaya tahun 60an di kanan kiri juga sebuah meja tempel menghadap ke jendela berderet sebagia tambahan tempat nongkrong sambil menikmati lalu lalang orang melewati jalan Nyai Achmad Dahlan, ada lemari bufet khas 60an juga dengan hiasan pemutar piringan hitam dan radio transistor dari era yang sama.

IMG_5167[1]

Ruangan kedua ditempati oleh beberapa tempat duduk, pun dengan bebrapa set bergaya tahun 60an, hayang menarik adalah diatas sebuah buffet tua ada deretan rapi foto sebuah keluarga, nampaknya adalah keluarga asli pemilik rumah tua ini, menarik sekali memperhatikan foto-foto ini, sebuah foto keluarga yang sepertinya sangat chic pada masa itu, dan ada juga foto seorang perempuan Jawa cantik dengan berkebaya dan berkerudung brokat tipis indah!

IMG_5148[1]

Seperti yang sudah Saya sebutkan, bahwa bangunan ini dibuat dengan desain simetrikal, sebelum memasuki ruang kedua terdalam, terdapat dinding penyekat dengan 3 pintu yang sama ukurannya dan detail nya, pintu terbuat dari kayu dan kaca yang diberi gambar tetumbuhan, bagian atas dihiasi dengan kaca patri berwarna warni, bergambar kupu-kupu sebagia center nya dan kanan kiri nampaknya bergambar kumbang bergaris.

IMG_5126[1]

Jika diperhatikan dari detail di beberapa bagian, sepertinya rumah indah ini menganut langgam Art Nouveau, seperti banyaknya detail tumbuhan dan bunga juga garis-garis yang menari, berkelok-kelok menghiasi jeruji besi dan tegel tua nya, dan sepertinya rumah yang dahulu kala dimiliki oleh Juragan Batik di Kauman ini dibuat sekitar tahun 1919, jika memperhatikan tahun yang tertera di rumah-rumah sekitarnya yang memiliki langgam yang serupa.

IMG_5138[1]

Sayang, Sang pemilik warung kopi tidak begitu mengenal sejarah rumah ini, ketika Saya bertanya “Mas tahun berapa rumah ini kira-kira dibuat?!” kemudian Sang Pemilik menjawab “Sepertinya tahun 80an Mas!” hummmmm…yo wesss….jika saja mereka tau, Saya yakin akan menambah nilai tersendiri bagi warung kopi sederhana di rumah tua indah ini.

IMG_5144[1]

Seperti sebuah ungkapan :

I HAVE OFTEN WONDERED WHAT IT IS AN OLD BUILDING CAN DO TO YOU WHEN YOU HAPPEN TO KNOW A LITTLE ABOUT THINGS THAT WENT ON LONG AGO IN THAT BUILDING – Carl Sandburg

I wish I would know more about this beautiful old shop house, nevertheless¬† I am so happy to see this old building it has been re-purposed into a coffee shop without changing anything except the furniture, sruput kopi di rumah tua itu memang jauh lebih nikmat…MY HAPPY PLACE!

IMG_5154[1]

#rumahtua #roemahtoea #kauman #kampungkauman #yogyakrta #ngayogyakartahadiningrat #kumpenicoffee #coffeeshop #warkop #warungkopi #arsitektur #architecture #oldhouse #oldmansion #oldshophouse #juraganbatik #batik #kampungislam #wonderfulindonesia #myheritagetrip

Villa Mei Ling

e8476f7c86be4cccbe1ccd8c857119aa

Ini adalah panorama Bandung Utara pada tahun 1930an, bangunan bertingkat berwarna putih itu adalah sebuah rumah…iya sebuah rumah bernama Villa Mei Ling.

Tergerak hati untuk mencari cerita mengenai villa ini ketika sebuah instagram account yang membahas bangunan lama di kota Bandung, dan semakin penasaran ingin mengunjungi Villa Mei Ling bergaya Art Deco ini.

Kembali ke foto diatas, seperti time machine yang membawa Saya berandai-andai, bagaimana gedung itu berdiri dilahan luas di sebuah bukit yang bisa melihat hamparan pemandangan indah kota Bandung pada masa itu, layaknya Villa Isola di Lembang yang pernah Saya ceritakan dahulu.

bandung-jalan-siliwangi

Villa Mei Ling, dibangun pada tahun 1930 – 1931, pemiliknya adalah pengusaha beras keturunan Tionghoa bernama Hok Hoei Kan (H. H Kan), berdiri disebuah bukit kecil, diapit oleh Jalan Sangkuriang dan Jalan Babakan Siliwangi kalau sekarang.

Villa Mei Ling dirancang oleh arsitek kenamaan pada masa itu yakni F. W. Brinkman dengan langgam Art Deco, beliau sudah banyak merancang berbagai bangunan cantik di Bandung, seperti Bioskop Elita dan Oriental (sekarang sudah tidak ada), gedung sekolah MULO dan lain sebagainya.

Jika memperhatikan bangunannya sendiri Villa Mei Ling ini memang sengaja dibangun oleh pemiliknya agak mereka bisa tetirah jauh dari kehidupan Batavia pada masa itu, udara yang sejuk, berada di ketinggian, membuat villa ini menjadi tempat sangat ideal untuk beristirahat.

villa mei ling1.JPG

Nama Mei Ling sendiri diambil/terinspirasi dari nama istri dari Chiang Kai Sek РPresiden dari Republik Cina (Taipei),  Mei Ling Soong (Sung).  Hal menarik lainnya adalah bahwa Villa Mei Ling ini oleh sang pemilik diisi dengan brang-barang antik, yang dikumpulkan dari berbagai negeri, sehingga selain rumah tinggal Villa Mei Ling juga direncanakan menjadi gallery atau bahkan museum, hanya sayang, pada saat Jepang kalah kemudian sang pemilik Villa Mei Ling bisa kembali mendapatkan villa nya tapi tak lama kemudian pihak tentara Kerajaan Inggris mengambil alih Villa Mei Ling ketika mereka ingin kembali menguasai Bandung, sekitar 34 truk mengangkut barang-barang antik tersebut sampai-sampai gagang pintu bergaya Art Deco pun mereka ambil.

Villa Mei Ling ini terletak diantara Lamminga Weg atau sekarang Jalan Sangkuriang dan juga Dr. De Groote Weg alias Jalan Babakan Siliwangi, sampai sekarang jika melewati Jalan Babakan Siliwangi,kita masih bisa menyaksikan dam atau irigasi kecil dibawahnya,  pas sebelum Teras Cikapundung sekarang.

Villa Me Ling memiliki interior Art Deco yang sangat kuat,menyesuaikan dengan bagian exteriornya, design interior diserahkan juga kepada Brinkman dan partner beliau yakni insinyur Voorhoeve, contoh yang paling menarik untukdiperhatikan adalah deretan pagar pembatas di tangga dan juga kaca patri yang memiliki 3 panel bergambar flora bergaya Art Deco.

villa mei ling2

Pemilik Villa Mei Ling yakni H.H. Kan tidak pernah berpikir bahwa Villa Mei Ling akan menjadi bagian dari sejarah Indonesia, bagaimana tidak,ketika Jepang menjatuhkan bom ke Gedung Pakuan yang merupakan tempat tinggal Residen Priangan kala itu, memaksa Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir yang kala itu sedang mengungsi di Bandung setelah Batavia menyerahkan diri kepada Jepang pada 5 Maret 1942, yakni  A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer kemudian beliau mengungsi ke Villa Mei Ling, hingga mulai 8 Maret 1942 Villa Mei Ling dijadikan kamp untuk penahanan para pejabat senior Hindia Belanda saat itu.

Di Villa  Mei Ling ini pun Gubernur Jenderal Tjarda kemudian menerima ultimatum yang berujung pada perundingan Kalidjati yang mengakhiri penjajahan Belanda selama 350 tahun di Indonesia.

Sekarang rumah megah ini tetap lestari walaupun sudah tidak dimiliki oleh keturunan dari Hok Hoei Kan, rumah ini menjadi kantor dari Dinas Psikologi TNI Angkatan Darat.

Semoga rumah indah sarat cerita ini tetap lestari!

(Cerita diambil dari berbagai sumber termasuk catatan keturunan Hok Hoei Kan yakni Sioe Yao Kan)

 

 

Once Upon A Time in Little Tiongkok

IMG_2291[1]

Last day in Lasem, we were paying homage to the oldest temple called Cu An Kiong, terletak di dekat sungai Babagan, kiranya ada alasan mengapa Klenteng ini dibangun disini dikarenakan ini adalah akses masuk pertama kali ke Lasem, di sungai Babagan inilah tempat bongkar muat dilakukan sepertinya.

Dahulu kala berdasakan beberapa artikel yang sempat Saya baca, Klenteng ini dibangun diatas hutan jati, dan merupakan sebagai penghormatan kepada Dewi Samudera (Thian Tiang Seng Bo) karena mereka diberi keselamatan di laut sehingga bisa mendarat dengan selamat di Lasem.

IMG_2301[1]

Bangunan Klenteng ini praktis tidak mengalami perubahan berarti sejak di renovasi pada tahun 1838, sejarah mencatat bahwa Klenteng ini dibangun pada abad ke-15, dimana pertama kali para perantau dari Negeri Tiongkok berlabuh, tercatat pada tahun 1477 Klenteng ini di bangun, berdasarkan catatan di sebuah museum di Den Haag, Belanda, catatan ini dimiliki oleh Belanda dikarenakan pada masa penjajahan sempat terjadi penjarahan besar-besaran termasuk catatan penting sejarah pendirian Klenteng ini.

Beruntung sekali ketika Saya datang, sedang tidak ada pengunjung lain, jadi bisa benar-benar merasakan indahnya bangunan ini secara tenang dan pelan, Klenteng ini ketika datang hanya dijaga oleh seorang wanita paruh baya yang kami panggil Oma.

Tipikal Klenteng Cina, banyak di dominasi warna merah dan emas, semua detail masih sangat terjaga dengan baik, indah dan indah sekali, daun pintu, kisi-kisi ventilasi, dinding semua dibuat dengan detail yang mumpuni.

IMG_2387[1]

Ada dua bagian dinding yang dihiasi mural yang cukup massive, dinding di area altar bergambar para Dewa, sedangkan area depan mural berupa cerita 100 panel komik “Kisah Mitologi Dewa-Dewa Taois”¬†karya Xu Zhonglin atau dikenal dengan komik Fengshen Yanyi (National Geographic).

IMG_2294[1]

Klenteng ini penuh dengan makna simbolik, dilihat dari hiasan-hiasan yang terdapat pada pahatan maupun gambar-gambar mural, I wish I could tell more about this.

Yang unik dari Klenteng ini adalah disetiap ulang tahun Klenteng, hampir dipastikan selalu ada orkes gamelan Jawa, ini merupakan bentuk akulturasi yang luar biasa dari masyarakat pendatang dan Lasem itu sendiri.

IMG_2314[1]

I was so happy that on my last day in Lasem finally I could pay homage and admiring this Klenteng, the oldest Klenteng in Java, yang penuh dengan cerita waiting to be unfold!

 

Perhaps They Are Not Bored, Perhaps Because It Feeds Their Soul…

IMG_2350[2]

December 2017, Saya berkunjung ke sebuah tempat pembuatan batik bernama Batik Nyah Kiok.  Berada di sebuah rumah tua bergaya khas Peranakan Lasem, batik ini sudah berproduksi sejak lama sekali, hanya membuat satu motif batik saja yakni motif batik Gunung Ringgit Pring dan dikerjakan oleh 7 perempuan saja.

Ketika masuk ke rumah tua dan teras belakang melalui gang disebelah kanan bangunan utama, kebetulan sekali keadaan sedang sepi, hanya Ibu Ibu pekerja Batik Nyah Kiok dan kami bertiga, there was a somehow poetic atmosphere when you entered this particular house and area, the smell of those wax, the cloths and of course batik.  They were so quiet, no music, no chit chat only focus on their on part.

“Ibu kok sepi sekali, gak ada musik atau apa? Gak bosan Bu?” tanya Saya pada Ibu Ibu, dibalas dengan senyuman dan bahasa Jawa yang saya sendiripun mboten ngertos alias kurang mengerti, tapi kurang lebih seperti ini “Kadang kami mendengarkan Radio sambil bekerja!”

IMG_2467[2]

Kemudian Saya memberanikan diri untuk memutarkan lagu, sebuah lagu Perancis dari Edith Piaf, memecah keheningan siang itu…senang rasanya melihat Ibu Ibu ini tersenyum, sambil tangan dan pikirannya tetap pada kain-kain tersebut, saat itupun Saya kemudian mengambil salah satu kain dan berputar-putar bermain dengan Gunung Ringgit Pring, sontak disambut dengan tawa kecil Ibu Ibu ini, “Wah Saya senang sekali jadi ramai dan bisa tertawa-tawa!” begitu kira-kira reaksi dari Ibu Ibu ini.

Many of them has been work so many years, some can be 30 to 60 years of dedication, can you imagine everyday you come to the same place, doing the same thing over and over and over again for so many years…my judgmental mind commenting “Gosh must be be bored ya, making same motif for so many times so many years!”

IMG_2413[1]Batik Nyah Kiok, amat sangat mempertahankan ke-khas-an dari warna Laseman, sedikit berbeda dengan rumah batik lainnya yang berusaha untuk mengikuti permintaan pasar, dihimpun dari berbagai sumber, ada warna-warna khas dari Batik Lasem ini yang tetap dipertahankan oleh Batik Nyah Kiok, abang getih pitik (merah darah ayam), biru tua, hijau dan warna cokelat.

8 bulan hingga 1 tahun pembuatan sehelai Batik Nyah Kiok ini, dedikasi yang luar biasa, dikarenakan hanya 7 perempuan hebat ini yang mengerjakan dari mulai menggambar, proses canting, nglorod, mencuci dan lainnya, bayangkan, sehelai kain selama kurang lebih setahun, a lifetime dedication!

IMG_2483[2]

Meraba helai kain Batik Nyah Kiok ini, takes you back to how hard it is the work they put into a single sheet of kain, the effort and times and the patient.

Membuat Saya berpikir kembali, dan sampai pada saat Saya ketika mencritakan kepada salah satau sahabat saya Wenni mengenai batik ini dan bagaimana Ibu Ibu ini bisa bertahan mengerjakan hal yang sama, over and over and over again for so many years…she told me “Mungkin, pekerjaan nya ini bukan hanya pekerjaan but also feeding their soul!”

IMG_2471[1]

Blessed you Ibu Ibu di Batik Nyah Kiok, your dedication to your work especially the existence of Batik, has taught me something…”To always find a job that feed your soul!” and I will for sure…Matur Nuwun Ibu once again!

 

Home Away From Home…Pesanggrahan Ambarukmo

Ada satu tempat yang syarat sejarah di Ngayogyakarta Hadiningrat yang seringkali luput dari perhatian wisatawan yang berkunjung ke kota ini, mungkin karena posisinya yang odd berada diantara dua bangunan “baru” yakni Ambarukmo Plasa dan Hotel Royal Ambarukmo, atau karena terletak diluar area Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pertama kali Saya mengunjungi tempat inipun I thought I was stumbled upon some a replica of Javanese mansion for the sake of preserving the culture itself, but then if you dig down a bit from here and there you’ll find an amazing stories lies on this majestic retreat mansion away from the hustle bustle of courtier life.

IMG_2632[1]

Area Pesanggrahan Ambarukmo memiliki sejarah yang cukup panjang bahkan dimulai sejak Sultan Hamengku Buwana II, dahulu merupakan tempat istirahat tamu-tamu Sultan sebelum kemudian datang berkunjung ke Keraton, hingga pada tahun 1859 dilakukan renovasi pada pendopo utama dan keseluruhan pesanggrahan ini hingga pada tahun 1897 oleh Sultan Hamengku Buwana VII.

IMG_2597[1]

Pesanggrahan Ambarukmo merupakan kediaman terakhir dari Sultan Hamengku Buwana VII setelah beliau turun takhta pada tahun 1920 dan kemudian memutuskan untuk hidup di luar tembok Keraton, dan kemudian beliau digantikan oleh Putra nya bernama GPH Purubaya atau Purbaya.

Hal yang menarik adalah intrik dari pengangkatan pengganti dari Sultan Hamengku Buwana VII ini, dikarenakan sebelum pada akhirnya jatuh ke tangan GPH Purbaya sebelumnya penerus takhta Sultan Hamengku Buwana VII adalah Gusti Raden Mas Achadiyat, Putera Mahkota pertama, beliau meninggal tidak lama setelah pengangkatannya menjadi Putra Mahkota dengan gelar KGP Adipati Anom Hamangkunegara I, kemudian gelar Putra Mahkota diserahkan kepada KGP Adipati Juminah hanya saja gelar tersebut dicabut dikarenakan alasan kesehatan, kemudian jatuh ke putera beliau yang lain yakni Gusti Raden Mas Putro hanya sayang GRM Putro pun meninggal setelah pengangkatan menjadi Putera Mahkota.

I do think this grand mansion meant to be as a place that home away from home, the scale obviously much smaller than the Keraton itself, but it has all you need as former Sultan to stay and unwind from the hustle and bustle of the Keraton life!

Struktur yang dimiliki oleh bangunan inipun tentu mengadaptasi rumah bangsawan Jawa atau keraton, dengan pendopo yang cantik, main house and other facilities such as bedrooms for the princes and princesses…even Sultan Hamengku Buwana VII he had his own meditation area called Bale Kambang, built just behind the main house surrounded by ponds, a floated pavilion…

Now this Pesanggrahan has become a Museum and also a spa ran by the current Sultan’s Princesses

Kaca Patri di Lawang Sewu

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_hoofdkantoor_van_de_Nederlandsch-Indische_Spoorweg_Maatschappij_(NIS)_in_Semarang_TMnr_10032316

Lawang Sewu, sebuah bangunan megah di Semarang bekas kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS mulai dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Arsitek terpilih adalah duo arsitek berasal dari Amsterdam, Negeri Belanda, bernama Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag, keseluruhan desain dibuat di Amsterdam dan kemudian dikirim ke Semarang untuk dieksekusi, bangunan megah ini memiliki fungsi sebagai kantor Jawatan Kereta Api yang memiliki rute-rute di yang menghubungkan Semarang dengan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta area dan di tahun 1873 menghubungkan Stasiun Willem I Ambarawa dengan Kedngjati dan Batavia.

Bangunan ini memiliki selasar-selasar yang indah, dan kemudian berhasil di konservasi dengan amat sangat baik oleh PT. KAI dan sekarang dijadikan objek wisata sejarah dan arsitektur di Semarang, satu hal yang menurut saya bagian paling menarik dan indah di gedung ini adalah kaca patri atau stained-glass window-nya yang berwarna warni dan memiliki gambar dan cerita menarik.

IMG_2142[1]

Let’s retell the story of this amazing stained-glass, story about how prosper and beautiful is Nusantara or Dutch East Indies at that time, cerita tentang indahnya Nusantara beserta flora dan fauna-nya dan betapa hebatnya dua kota besar saat itu yakni Semarang dan Batavia penyokong perekonomian Amsterdam khususnya.

Jika diperhatikan lebih lama, bagian kiri dari panel kaca patri ini bercerita tentang keindahan dan kesuburan Pulau Jawa dengan flora dan fauna-nya, pada waktu itu dibuatlah jalur kereta api pertama di Nusantara yang menghubungkan antara Semarang – Solo – Yogyakarta pada tahun 1873 yang tentunya melewati wilayah yang indah dan permai sepanjang perjalanan tersebut.

IMG_2146[1]

Sementara itu pada panel kanan atas menceritakan tentang dua kota besar penyokong perekonomian Amsterdam, yakni Semarang & Batavia, pada masa itu di dua kota inilah terletak pelabuhan besar yang menghubungkan Nusantara dan Negeri Belanda, dari kedua pelabuhan inilah komoditas terbaik di dunia di angkut dan kemudian untuk dijual demi kemakmuran Amsterdam pada khususnya dan Negeri Belanda pada umumnya.

IMG_2152[1]

Bagian tengah yang merupakan bagian terbesar bercerita tentang bandar bandar terbesar di Nusantara yakni Semarang dan Batavia, betapa kuat nya mereka sebagai pintu masuk ke Nusantara bahkan sejak jaman Mataram Kuno, Terdapat lambang kota Semarang dan kota Batavia mengapit lambang kerajaan Belanda dan gambar sepertinya buah pala.

IMG_2145[1]

Bagian tengah lainnya adalah bagian dimana terdapat gambar roda kereta apri bersayap, yang merupakan simbol dari perusahaan jawatan kereta api pada masa itu, menggambarkan pergerakan dan teknologi pada saat itu, roda terbang tersebut diapit oleh dua perempuan bermata sayu, yang merpakan simbol dari Dewi Fortuna atau Dewi Keberuntungan dan Dewi Venus yang menggambarkan kasih sayang dan cinta, dan hal ini merupakan simbol dari Ibu Pertiwi.

IMG_2141[1]

Kaca patri ini di produksi disebuah kota di Negeri Belanda bernama Delft oleh seorang seniman kaca patri terkenal pada saat itu yakni  J.L. Schouten dari studio seni kaca patri T. Prinsenhof pada awal tahun 1900an.

IMG_2143[1]

Go and find yourself dreaming and wandering by looking at this majestic artwork, best time to go is early morning, when there are still few people and when the sun rays bursting into this stained-glass panels, simply stunning…may this building lived forever!