Kota Bandung Adalah Charles Prosper Wolff Schoemaker

Charles Prosper Wolff Schoemaker, not only he is a great architect but also a sculptor

Kemaren, Saya sempat membahas suatu gedung indah di kawasan Lembang Bandung bernama Villa Isola yang sekarang menjadi Bumi Siliwangi dan berfungsi sebagai Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.

Hal yang belum Saya bahas secara mendalam adalah sang arsitek Villa Isola yakni C.P.W Schoemaker, Googling kesana kemari dan sangat menyenangkan karena ada banyak cerita yang cukup lengkap mengenai sosok arsitek ini di Wikipedia maupun di sumber-sumber lainnya dan cukup konsisten kontennya, sehingga retelling the stories of this “Frank Lloyd Wright-nya Nusantara” cukup mudah.

Let’s Get LOST & WANDER

Lahir di Banyu Biru, Semarang Jawa Tengah pada tahun 1882, menghabiskan masa hidupnya di kota kecil tersebut sebelum akhirnya beliau melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda tepatnya di Breda, pada tahun 1905 beliau kembali ke “tanah air” dan bekerja di Royal Dutch Indies Army sebagai military engineer, tapi rupanya yang mengubah haluan beliau menjadi lebih menekuni arsitektur dan bangunan sepertinya sejak beliau pada 1911 bergabung menjadi insinyur untuk Department of Civil Public Works di Batavia and became the Director of Public Works in 1914 (Wikipedia), tahun 1917 CPW Schoemaker bergabung dengan sebuah firma yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajak ke Amerika Serikat yang kemudian dari situlah CPW Schoemaker mendapatkan banyak pengaruh dari Frank Lloyd Wright.

Banyak sekali gedung peninggalan CPW Schoemaker terutama di Bandung, ciri khas dari design beliau adalah sangat kental dengan Art Deco yang kemudian memasukkan pengaruh budaya Nusantara ke hampir setiap design bangunan nya, mulai dari bentuk atap, ornamental yang menempel di dinding atau facade dan seterusnya.

Semenjak tahun 1918 bersama saudara kandungnya CPW Schoemaker mendirikan firma arsitek yang kemudian menciptakan banyak sekali gedung-gedung ikonik di kota Bandung, seperti Villa Isola, Gedung Pasteur, Gedung Merdeka, Gereja Katedral Bandung, dan masih banyak lagi.

Rumah beliau sendiri berada di Jalan Sawunggaling Bandung, yang sekarang berubah menjadi sebuah kantor Bank swasta, dahulu sempat menjadi kontroversi karena hampir saja diratakan dengan tanah, however it survived and even became UNESCO Heritage.

Would probably C.P Wolff Schoemaker house

Namun keberadaan rumah ini juga masih sempat menjadi tanda tanya, apakah ini benar rumah beliau atau rumah ciptaan salah satu arsitek bernama Van Oyen, namun juga jika dilihat dari ornamental yang terdapat di rumah tersebut memang sangat ke-CPW Schoemaker-an, seperti terdapat ornamen Kala (Buto Kala) pada bagian depan rumah ini, dan disalah satu tulisan disebutkan, sebenarnya rumah beliau berada di Lembang, berdasarkan surat beliau yang dikirimkan melalui alamat kirim surat tersebut kepada keponakannya, dibawah ini adalah foto dari rumah tersebut.

Would also probably the house of CP Wolff Schoemaker in Lembang Bandung

Anyway, mari kita bahas beberapa bangunan ikonik yang masih tersisa di Bandung maupun yang barangkali sudah luput dari kita.

Pertama, Villa Isola yang dibangun pada tahun 1932 dan selesai pada tahun 1933, bangunan ini merupakan private mansion seorang media tycoon bernama Dominique Warren Berretty, sangat indah, dan dikabarkan bahwa bentuk nya terinspirasi dari candi-candi yang berada di Jawa Timur dan memakai filosofi poros utara selatan untuk bangunannya seperti filosofi Jawa dalam membangun sebuah keraton, sekarang bangunan ini menjadi kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (dahulu IKIP Bandung).

Beautiful Villa Isola now Bumi Siliwangi in Lembang Bandung

Bangunan lainnya adalah, Gereja Katedral Santo Petrus or Saint Peter’s Cathedral on Jalan Merdeka Bandung yang dibangun pada 1921.

a8c4a5adb1db3353ed3e9bc48ae2c786

Bangunan ketiga adalah bangunan megah yang sekarang menjadi Markas Besar Tentara Indonesia KODAM III Siliwangi, yang dahulunya adalah Paleis van de Legercommandant (Istana Panglima Pasukan Hindia Belanda) bangunan bergaya Art Deco ini dibangun pada tahun 1918 oleh CWP Schoemaker dan kakaknya yakni Richard Leonard Arnold Schoemaker (1886-1942), dan selesai dalam waktu 2 tahun, dan di komplek yang sama tepatnya di Jalan Kalimantan (sementara itu Istana Panglima berada di Jalan Aceh), terdapat Departemen Pertahan Hindia Belanda yang lebih bergaya klasik Eropa, jika melihat gedung ini benar-benar mengingatkan gedung-gedung yang berada di Belanda, sangat cantik seperti kue hias, gedung ini sendiri di design oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker, dan bahgia rasanya bahwa kedua gedung ini sampai sekarang masih seperti aslinya tida perubahan yang berarti.

Paleis van de Legercommandant now KODAM III SILIWANGI on Jalan Aceh Bandung

 

Departement van Oorlog, or Departemen Pertahanan Hindia Belanda on Jalan Kalimantan

Gedung lain yang sangat menarik secara design adalah gedung ke-empat berikut ini, yang dahulu dinamakan Jaarbeurs, gedung khusus pameran pada masa Hindia Belanda, gedung ini amat sangat mengingatkan Saya pada design Frank Lloyd Wright dengan detail 3 laki-laki telanjang membungkuk di facade bangunan tersebut yang sangat sayang disayang, sekarang ornamen indah tersbut ketika kemarin pulang kampung Saya lewat gedung ini sudah ditutup oleh panel berisi tulisan, sedih rasanya dan sulit memahami pola pikir sebagian kecil orang yang melihat karya seni hebat ini jadikan objk yang barangkali menurut mereka porno-aksi, mestinya yang mereka tutup pake panel kayu itu otak mereka bukan karya seni indah tersebut.  Bangunan ini di design oleh CP Wolff Schoemaker dan dibangun pada tahun 1920 dan sekarang dijadikan kantor KOLOGDAM (Komando Logistik Daerah Militer III Siliwangi).

Jaarbeurs Bandung

 

Selain Gedung KOLOGDAM yang indah ada gedung lain karya CP Wolff Schoemaker yang juga sangat menarik, yakni Masjid Raya Cipaganti, cerita yang menarik saya baca di artikel terbitan koran Pikiran Rakyat mengenai masjid indah ini, Masjid Raya Cipaganti diresmikan pada 27 Januari 1934 dan dibangun pada tahun 1933 dan merupakan karya CP Wolff Schoemaker dan merupakan wujud cinta beliau terhadap Islam yang merupakan agama yang beliau peluk sejak than 1930, arsitekturnya mengadaptasi gaya Eropa dan Jawa terlihat dari ata sirap nya, Masjid ini adalah satu-satu nya dan masjid pertama yang berada di kawasan pemukiman orang Eropa pada masa itu dan sebagian bangsawan pribumi.  Masjid ini ternyata memiliki sejarah cukup unik dan multi ras dan agama yang terlibat melatarbelakangi sejarahnya, selain CP Wolff Schoemaker yang seorang Belanda dan mualaf yang menarik adalah yang mewakafkan tanah untuk pembangunan ini adalah seorang wanita Sunda bernama Nyi Oerki! Nyi Oerki ini adalah istri dari seorang pengusaha susu, cokelat dan pengacara berdarah Italia bernama Antonio Ursone seoarang Katolik yang taat dan kalau tidak salah jika kita sempat jalan ke Pemakaman Belanda Pandu kita bisa melihat makam keluarga Ursone ini, what a story!

Masjid Raya Cipaganti Bandung

Mari kita jelajahi lagi hasil karya lain dari CP Wolff Schoemaker yang lain yakni Gedung Merdeka, yang dahulunya bernama Societeit Concordia tempt berkumpul para warga Belanda untuk bersantai dan bersosialisasi dan kemudian menjadi tempat penyelenggaran Konferensi Asia Afrika Thun 1955, Gedung Merdeka dengan design yang seperti sekarang ini dimulai pada tahun 1926, walaupun sebenarnya gedung Societeit Concordia sudah berdiri sejak tahun 1870.  Arsitek lain yang mendesain bangunan ini selain beliau adalah A.F Aalbers (10 tahun ketelah Schoemaker melakukan perubahan dari design lama).

376Concordia

Gereja lain yang dibangun ole CP Wolff Schoemaker adalah Gereja Bethel, gereja yang masih memiliki bentuk aslinya sampai sekarang ini dan berada dekat Kantor Walikota Bandung, dibangun pada tahun 1 Mei 1924 dan diresmikan pada 1 Maret 1925 dan diberi nama “De Nieuwe Kerk” yang menarik dari gereja ini tidak ada penampakan salib di bagian luar bangunan ganha ditandai oleh jam dan lonceng yang berdentang pertama kali pada 1 Maret 1925 pada pululam 09.15 pagi.

24058-bandung_kostel_24-v-1929

Karya monumental lain adalah Grand Hotel Preanger di Bandung, hotel yang sangat kental dengan gaya Art Deco ini merupakan hasil karya rombakan dari CP Wolff Schoemaker dibantu oleh murid nya bernama Soekarno, pada tahun 1929, jika sempat datang dan masuk ke hotel ini, mereka memiliki museum kecil yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi, tapi tidak banyak orang tahu keberadaan museum ini.

Grand Hotel Preanger Bandung

There are so many great buildings made by him, from Bioscoop Majestic or Bisokop New Majestic atau yang dahulu bernama Bioscoop Concordia di Jalan Braga No. 1, Gedung Pasteur, Aula Timur & Barat ITB, Gedung PLN Bandung, hingga Villa Merah ITB di Jalan Taman Sari.

Charles Prosper Wolff Schoemaker menutup mata selamanya pada usia 66 tahun tepatnya pada 22 Mei 1949 dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu Bandung, beliau meninggalkan banyak sekali bangunan indah yang memadukan unsur Eropa dan Nusantara secara harmoni.

 

#saveheritage #heritage #oldbuilding #oldmansion #cpwschoemaker #charlesprosperwolffschoemaker #bandung #arsitektur #architecture #sejarahbandung #bandungtempodoeloe #fortheloveofoldbuildings #wanderlust #lostandwander1976

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s