Bcoz It’s Raining And I Got Nothing To Do 

Akhir-akhir ini Bali Rasa Bandung…mendung dan dingin, untuk ukuran kami yg di Bali, 25-26 derajat itu sudah dingin haha…

Karena pagi ini seharusnya Saya seperti biasa melakukan JJS alias Jalan Jalan Sunday terpaksa ngendon di rumah, pake haori that I bought in Kyoto and lately my fave ensemble whenever I got home, bikin teh, dan baca buku kecil yg kemudian buku ini jadi favorit karena Saya banget…buku yg melankolik, daydreaming dan easy to read as if I read my own diary…called Stories For Rainy Days karya Naela Ali, pas banget kan?! And not to forget lit also your your fave scented candle…Let’s again LOST and WANDER! 

#favebook #sundays #tea #candles #lazysunday #storiesforrainydays #naelaali #hmhome #amalfivietnam 

Such A Quaint Street Called Jalan Tirtodipuran

Beberapa waktu lalu Saya kembali ke Yogyakarta, tinggal di area Prawirotaman yang merupakan area hip dan biasanya banyak turis asing senang tinggal di area ini, hanya saja sekarang dengan kehadiran banyak hotel baru dan sering nya Yogyakarta dijadikan lokasi syuting film seperti AADC 2 membuat Prawirotaman area juga menjadi tempat pilihan turis domestik.

My fave hotel here in this area would be Adhistana Hotel, such a cute and instagramable hotel!

Jika kita berjalan ke arah Jalan Parangtritis, lurusan Jalan Prawirotaman terdapat sebuah jalanan yang bernama Jalan Tirtodipuran, if you feel that Prawirotaman area been little bit too crowded take a short walk to Jalan Tirtodipuran, you will be very happy just to wander around this quieter street compare to Prawirotaman, things that you will find is some cafes and restaurant like Bu Ageng own by famous seniman Butet Kertaradjasa, cool murals, antiquites, gallery and you will be stumbled upon great old houses, two of them are massive in scale and very well preserved, Thank God…

Let’s start from cool murals I saw…here we go…

I found a cool coffee shop on Jalan Tirtodipuran and I found it very chic as they made it in all white interior, and looks like every now and then they feature some artists to exhibit or show their work of arts, nama cafe ini pun sangat poetic, RUANG SEDUH (IG : @ruangseduh)

Berjalan lambat menikmati Jalan Tirtodipuran saat sore dan terutama kalau kebetulan udara mendukung sangat menyenangkan memperhatikan bentuk-bentuk arsitektur rumah tua jaman kolonial, seperti rumah rumah berikut ini…

And some quirky vintage store too caught my attentio…

#jalantirtodipuran #yogyakarta #jogja #jokjakarta #ngayogyakartahadiningrat #exploreyogya #murals #art #saveheritage #rumahtua #oldhouse #oldmansion #colonialbuilding #gallery #apapoon #vintagestore #cafe #coffeeshop #ruangseduh #ruangseduhtirtodipuran #wanderlust #travel #traveler #traveling #travelgram #instaplace

Solo Mio Part 4

Berjalan kaki di seputaran Balurwati (Kraton walls) you may stumble upon great, abandoned old buildings, if only they can tell you everything about the past…it must be pretty amazing…

Seputaran Keraton Kasunanan Surakarta…Keraton (Palace) Kasunanan Surakarta built in 1744 by Susuhunan Paku Buwana II, one of the architect is Pangeran (Prince) Mangkubumi (then Sultan Hamengku Buwana I), renovasi besar besaran dilakukan oleh Paku Buwana X (reigning from 1893 until 1939) sehingga menemukan bentuk nya kurang lebih seperti sekarang ini.

Kraton Kasunanan Surakarta and around

Solo Mio Part 3

Teman-teman Saya selalu bertanya “Ngapain sih ke Solo lagi?” setiap Saya menyampaikan keinginan untuk mengunjungi kembali kota ini, well true though, Solo is kinda city that dead after 8PM, nothing to see, no cool cafes to hang around, etc. etc. true and true…tapi untuk Saya, Solo itu kota yang cukup menyenangkan untuk ditelusuri apalagi sambil membaca kisah-kisah lama Kasunanan Surakarta, seperti lost in translation kembali ke masa lalu dan betul sekali, waktu rasanya terhenti di kota ini…other thing is if you love history, old buildings and food perhaps Solo can be your thing…

Kunjungan kali ini ke Solo pas di Bulan Ramadan kemaren, sebenarnya saya tertarik untuk mengikuti tour gratis nya Soerakarta Walking Tour, sebuah organisasi non profit yanng digerakkan oleh anak anak muda yang peduli dengan sejarah kota nya…Saya ingin bertemu dengan sesama pecinta sejarah dan bangunan tua, dan terlebih I gotta meet my new friend Halim Santoso which I have been followed his IG (@halimsantoso) for quiet sometime.

But the most interesting thing from my visit was, I got a chance to visit Crown Prince’s mansions inside or outside the Kraton wall (called Balurwati), rumah-rumah Pangeran yang disebut nDalem ini adalah warisan arsitektur Jawa yang sangat indah, namun sayang sekali banyak dari nDalem ini tidak terpelihara dengan baik.

Let’s start from nDalem Purwodiningratan, a Prince’s mansion built around 1819 based on numbers written on main gate…nDalem ini merupakan nDalem Purwodiningratan merupakan nDalem kediaman Kanjeng Raden Mas Haryo Tumenggung (KRMHT) Purwodiningrat VI.

nDalem lain yang sempat saya kunjungi adalah nDalem Suryohamijayan, I was amazed by Halim Santoso’s post on his instagram (@halimsantoso), this house has a particular tiles and colours, mainly shades of green, the house itself built in 1919, nDalem ini merupakan tempat tinggal Pangeran Suryohamidjojo orang yang cukup berperan dalam kemerdekaan Republik Indonesia, anggota BPUPKI, unfortunately this house also kinda neglected, masih di urus oleh penjaga atau bahkan mungkin keluarga nya namun terlihat memang kurang terurus dengan baik, karena memang sudah kosong tidak berpenghuni hanya beberapa kelaurga yang menghuni barisan rumah bedeng disisi kiri dan kanan nya.

nDalem lain yang sempat saya kunjungi adalah nDalem Sasono Mulyo, it used to be the house of Crown Prince KGPA Anom and now own by GPH Dipokusumo.  nDalem ini sekarang berfungsikan sebagai tempat persemayaman jenasah Raja sebelum diberangkatkan ke Imogiri dan juga sebagai tempat pernikahan putra-putri Raja. Selain itu nDalem ini juga difungsikan sebagai tempat latihan tari dan karawitan.

Built in 1811 in traditional Javanese architecture consist with four elements which is Pendopo/Pendapa, Pringgitan, nDalem & Gandhok, on the side there is a very “modern” style different from Javanese style, built in Indische Style (European & Nusantara Style at that time) this one called nDalem Lodjen Sasono Mulyo.

#exploresolo #lostandwander1976 #saveheritage #heritage #oldbuilding #oldhouse #oldmansion #arsitektur #architecture #indischestyle #colonialstyle #javanesearchitecture #kasunanansurakarta #surakarta #solo #jawatengah #centraljava #crownprincehouse #javanese #javaneseculture #budayajawa

Solo Mio Part 2

Kali kedua Saya stay di area Kampung Laweyan, it’s a batik village and it used to be very grand, only now lost its charms little by little and hoping will bounce back again with preserving the old mansions around the Kampung (village).

Got a chance to finally have a peeked the old mansion once owned by Juragan Batik Laweyan, dengan memberanikan diri untuk mengetuk pintu besar rumah bertembok putih bersih di salah satu gang atau jalan yang ada di Kampung Laweyan bersama rekan saya Halim Santoso, and we were lucky, karena ternyata rumah besar ini sedang mengalami renovasi dan hampir rampung dan akan dijadikan homestay bernama WHEN IN SOLO.

Tipikal rumah Juragan Batik di Laweyan selalu berada atau dikelilingi oleh tembok besar dan tinggi,sehingga sulit melihat ke dalam, hanya terdapat pintu atau gerbang besar yang selalu ada pintu jauh lebih kecildi salah satu daun pintu atau gerbang nya.

Here we go…

Other great mansion is the homestay that I stayed during my one night in Solo, this is the second time I stayed there, one of the most well-preserved old mansion, and again it was owned by Juragan Batik (Batik Owner), built in 1930s 1938 for the exact year, with Art Deco style, it’s a beautiful old mansion located on the main road and yet surrounded by high walls, now this beautiful house own by Ibu Nina Akbar Tanjung, she is very profound of old buildings and the wife of former Indonesian Minister, the house now called ROEMAHKOE HERITAGE (www.roemahkoe.com), here is some details of this house…

#solo #surakarta #jawatengah #centraljava #kasunanansurakarta #kampunglaweyan #kampungbatik #kampungbatiklaweyan #arsitektur #architecture #oldhouse #oldmansion #rumahtua #saveheritage #heritagebuilding #artdeco #details #design #wonderfulindonesia #roemahkoeheritage #hotel #guesthouse #roemahkoeheritagehotel #jalanjalan #exploresolo #exploresurakarta

Solo Mio Part 1

Berkunjung ke Solo untuk kesekian kali…dan kali ini saya ditemani oleh fellow old building and history aficionado mas Halim Santoso (IG @halimsantoso) too many things that I would love to share, however let’s start from Puro Mangkunegaran

mangkunegaran 1890-1900

Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757 oleh pendiri Dinasti Mangkunegaran, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa which is Mangkunegara I.

Memiliki gaya arsitektur Jawa & Eropa, Puro Mangkunegaran memiliki pendapa terbesar di Indonesia, dan dibangun dengan struktur keraton Jawa pada umumnya yang terdiri dari pamédanpendapapringgitandalem, dan keputrèn.

Kunjungan kemaren cukup berbeda karena teman saya Halim Santoso menunjukkan bagian lain dari Puro Mangkunegaran yang biasanya tidak dilewati oleh tour pada umumnya, yakni bagian luar dr tembok Puro Mangkunegaran.

Ada dua bangunan cantik, sayangnya salah satu bangunan nyaris runtuh, padahal kedua bangunan ini sangat erat kaitannya dengan tradisi Puro Mangkunegaran, menurut teman saya, dalam tradisi Dinasti Mangkunegaran, sebelum seseorang menjadi Raja/Adipati mereka akan melalui tiga proses atau tahapan yang setiap tahapan memiliki tempat tersendiri, bangunan pertama, Bale Putro adalah rumah atau mansion yang diperuntukkan bagi Putra Mahkota pewaris takhta ketika masih belum cukup dewasa untuk tinggal sendiri sehingga harus tinggal dekat dengan Ibu nya, dibawah ini adalah foto yang Saya dapatkan ketika mengunjungi Bale Putro, bangunan cantik ini nyaris runtuh, lantai indah mulai memudar bahkan tertutup kotoran, ceiling hampir runtuh dan hanya menyisakan daun pintu yang masih terlihat cantik pada masa nya, bahkan patung dada marmer mendiang KGPAA Mangkunegara VII tergeletak begitu saja,very sad indeed,otherwise it would be such a great Crown Prince’s mansion.

Setelah Putra Mahkota berumur dewasa dan menikah maka beliau akan pindah ke bangunan sebelahnya yang bernama Prangwedanan, it’s really next to Bale Putro, they even have their own passage connecting to this great mansion, this building rather well-maintained, looks like on monthly basis they use this Pendapa for some traditional dance activities, great example of Javanese mansion, with those deep green and golden leaves details here and there, the downside would be that I found another great statue of KGPAA Mangkunegara VII just opposite this building, terlihat tidak terurus dan berkarat.

However,I am in love with the two paintings hanging in Pendapa, the painting of KGPAA Mangkunegara VII reigned from 1916 to 1944, dianggap sebagai raja modern dan membawa banyak modernisasi di wilayah Praja Mangkunegaran, dan lukisan lain adalah lukisan dari istri beliau yakni Gusti Kanjeng Ratu Timur Mursudariyah(famously named GKR Timur), they are the parent of the infamous and beautiful Princess called Gusti Nurul Kamaril.

Once again, Puro Mangkunegaran is such a beautiful heritage building in Solo, one of the most well-maintained one, here’s a glimpse…

IMG_4762
Pendapa of Puro Mangkunegaran/Mangkunegaran Palace, those beautiful chandeliers used to be hung at Buitenzorg Palace or Istana Bogor

 

For The Love of Old Buildings, Cafes, Architecture, History and All Things Beautiful…Let’s LOST & WANDER!

lostandwander1976 01
With Abdi Dalem Pura Pakualaman Yogyakarta

I have this things with old buildings, kemana pun Saya pergi,  Saya selalu ingin mencari Old Quarter, or even I love visiting old cities, including in here in my own country.

Hal ini dimulai ketika Saya berkenalan dengan buku karya almarhum Bapak  Harjoto Koento, Sang Kuncen Bandung, sejak SMA Saya mengkoleksi semua buku beliau, karena Saya suka sekali berkhayal, setiap baca buku beliau otak saya seperti berpetualang ke masa “Jaman Normal” di kota Bandung, begitu biasanya beliau menyebut periode masa Colonial, dimana rumah rumah dibangun dengan proper, jalanan dan selokan selokan juga dibuat secara intentional and mostly all buildings painted in white.

Entah ke berapa kali saya membuat blog tetapi I always left my blogs empty, however now I guess this is the time for me just to keep every moments that captured on my mind or my iPhone camera, as I do love story telling too.

Hal lain yang selalu menarik bagi Saya adalah, daydreaming in some cafes, taking some shots and posted on my instagram, now that I also have blog, lain kali mungkin diceritakan sedikit yah tentang cafe nya especially cute and cool cafes wherever I go.

Art,such as designs, murals and for sure architecture and all  things beautiful will always also  be my fave things.

Here We go…kita mulai!