Kembali Tamasya ke Kota Jogja Part 2

Kali ini ada yang sedikit berbeda karena Saya juga tamasya ke salah satu pantai yang ada di Yogyakarta, udah lama sih Saya dengar kalau pantai-pantai disini indah, cuman saja suka ragu karena Saya tinggal di Bali, dan selalu berpikir ngapain juga yah main-main ke pantai, rumah aja cuman 10 menit ke pantai jaraknya?

Jam 7 pagi kita berangkat ke pantai yang jaraknya hanya 1.5 jam dari Prawirotaman, sepanjang perjalanan disajikan banyak pemandangan bukit-bukit terhampar luas, desa-desa khas Jawa dan bukit-bukit berbatu dan akhirnya kita sampai ke pantai yang relatively very quiet, called Pantai Watu Lawang yang letaknya berada setelah Pantai Indrayanti.

143

We picked the secluded one, resto yangberada di ujung yang rupanya yang punya kenal dengan salah satu sahabat Saya, it was one fine morning, the temperature bit chill but there was always sun, we were having a laid back morning back then, until we had this feast by the beach…makan-makan di pinggir pantai, cah kangkung 2 porsi, cumi oseng pedas, udang asam manis, 2 ekor ikan cakalang dibakar bumbu kecap, oseng oseng kampung dan kelapa muda…oh my…heaven…and it was only for IDR 125.000 for the 4 of us!!

175

Kalau pergi ke Pantai enaknya emang jalan pagi sekali dan jam 12 an udah balik lagi ke kota yah, pas jam nya…balik ke kota cari pisang goreng di Aroma Cafe di area Kasongan, a lovely “warung” overlooking the rice paddies, angin semilir sambil makan pisang goreng dan ngobrol-ngobrol atau sekedar bengong.

Hal lain yang dilakukan di Yogyakarta kemarin adalah jalan ke area Pecinan, area Pecinan ini terdapat di Jalan Malioboro, kalau kita jalan mengarah ke Benteng Vredeburg atau ke arah Pasar Beringhardjo, nah sebelum pasar kita akan menemukan sebuah gedbang besar bergaya Cina, tertulis disitu Kampoeng Ketandan.

Kembali Tamasya ke Jogja
Kampoeng Ketandan, Pecinan di Yogyakarta

Keberadaan etnis Tionghoa usah ada di Yogyakarta lebih dari 200 tahun, mereka bermukim di area yang disebut juga Pecinan, salahsatunya di Ketandan, Beskalan & Pajeksan, banyak terdapat rumah rumah toko bergaya Tionghoa terutama terlihat dari bentuk atapnya yang menurun, warna-warna terang juga ornamen-ornamen lainnya.

Seperti biasa karena Saya tinggal di area Prawirotaman, tentu Saya selalu menyempatkan untuk berjalan-jalan di Jalan Tirtodipuran, melihat-lihat rumah tua dan ngopi sore di Ruang Seduh dan makan tentunya di Bu Ageng resto milik Butet Kertaradjasa. Β Jalan Tirtodipuran ini less crowded compare to Prawirotaman, many old colonial houses still in a very good condition, two of them are massively built in the middle of this quiet street, ada beberapa rumah yang saya sempat abadikan, seperti berikut ini.

Kembali Tamasya ke Jogja Part 2
Rumah Tua di Jalan Tirtodipuran Yogyakarta
Kembali Tamasya ke Jogja Part 2
Rumah Tua Jalan Tirtodipuran Yogyakarta

Gak lengkap rasanya kalau ke Tirtodipuran gak mampir ke Ruang Seduh, with its clinical look, ini semacam laboratorium kopi, duduk di luar sambil menikmati sore yang kala itu udara juga tidak panas.

Ada sebuah tempat dimana kita bisa makan, ngobrol, bahkan melihat-lihat karya seni dan buku, bernama Kedai Kebun Forum, tempat yang rimbun dengan dedaunan, dan rimbun dengan mural bergambar muka manusia atau tokoh dalam bentuk komik, ini adalah sebagian snap shots yang Saya rekam di iPhone.

181

178

Selalu menyenangkan berjalan-jalan disini, sambil daydreaming suatu hari nanti punya rumah tua disini and we convert this house into a beautiful guest house, I will keep those dream sampai jadi kenyataan…Amen! πŸ™‚

#jogja #jogjakarta #yogya #yogyakarta #ngayogyakartahadiningrat #indonesia #pantaiwatulawang #pantai #beach #beachlife #wisatajogja #explorejogja #bangunantua #rumahtua #roemahtoea #arsitektur #architecture #mural #kedaikebunforum #ruangseduhjogja #coffee #cafe #retaurant #jalantirtodipuran #tirtodipuran #colonialhouse #dutchcolonialhouse #rumahbelanda #artgallery

Kembali Tamasya ke Kota Jogja Part 1

Plengkung Gadhing
Plengkung Gadhing/Nirbaya

Kalau ditanya dimana lagi Saya bisa tinggal selain di Pulau Bali yang ter-amat Saya cintai ini, jawabannya adalah Yogyakarta! Β I don’t know why, every time I made a visit to this ancient town, walaupun datang ke tempat yang sama, tapi cerita dan rasa selalu berbeda, dan selalu menyenangkan.

Kali ini Saya ke Jogja seperti biasa karena dorongan impulsive Saya untuk traveling karena ada long weekend Idul Adha, dan kembali Saya memutuskan untuk stay di area Prawirotaman, walaupun sebelumnya Saya memikirkan untuk stay di area Patangpuluhan bahkan area dekat Kraton dikarenakan ada beberapa pilihan hotel yang Saya suka (Yats Colony) dan ingin dicoba (The Patio Guest House).

Hotel Adhisthana kembali jadi pilihan Saya untuk 3 malam di Jogja, this time I got a room on 3rd floor and it’s Deluxe room, located in a vibrant area called Prawirotaman dimana biasanya para turis asing flocked in, hotel ini memang sangat menyenangkan untuk ditinggali, plus design kamarnya yang menyenangkan disominasi warna deep blue, warna yang dipercayai bisa bikin tidur nyenyak, motif-motif batik tanpa terkesan tacky, and they painted the walls in white!

 

Hotel Adhisthana at Prawirotaman Yogyakarta
Inner courtyard at Hotel Adhisthana

Tamasya ke Jogja kali ini diisi (seperti biasa) dengan leyeh leyeh, leyeh leyeh dan leyeh leyeh hahaha…well lots of walking actually, ke pantai di area Selatan, pergi cari kain Lurik, dan tentunya melihat-lihat rumah rumah dan bangunan tua di Jogja.

Mari kita mulai dari Kraton Yogyakarta…

Bincang Siang di Bale Roto
Bincang Siang di Bale Roto, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Saya sudah beberapa kali ke Kraton Yogya, dan kali ini yang Saya lakukan hanya melihat-lihat dari luar dan area sekitar Kraton dengan tembok-tembok nya yang tebal dan tinggi, berbeda dengan tiap pergi ke Kraton, Saya mendatangi Kraton dengan tidak sengaja, berawal dari brunch makanan khas Yogyakarta yaitu brongkos di Warung Handayani di daerah Alun Alun Kidul kemudian dilanjutkan dengan jalan santai di area ini, pertama tentu saja melintasi dua beringin besar di Alun Alun Kidul ini, very beautiful banyan trees, ada beberapa orang yang sedang mencoba peruntungan untuk berjalan melintasi dua beringin besar ini dengan mata yang ditutup sehelai kain, ada juga yang memang berteduh saja disana dan tertawa-tawa memperhatikan mereka.

Alun Alun Kidul
Dua Beringin Besar di Alun Alun Kidul

Diseberang Alun Alun Kidul terdapat sebuah gedung besar bertuliskan Sasono Hinggil Dwi Abad bergaya Art Deco yang selalu ingin Saya masuki dan ternyata boleh dimasuki dengan bebas mungkin dikarenakan ada toilet umum disitu, gedung ini didirikan untuk memperingati Dwi Abad berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (1756 – 1956).

Sekarang tempat ini dijadikan tempat untuk berbagai pertunjukkan bahkan tempat untuk rapat besar.

Sasono Hinggil Dwi Abad
Sasono Hinggil Dwi Abad

Di sisi kanan dan kiri Sasono Hinggil Dwi Abad ini terdapat jalan atau gang besar yang mengelilingi gedung, dan tepat di belakang gedung terdapat sebuah gerbang besar, pada waktu itu Saya dan teman sempat ragu untuk masuk, dikarenakan kita berpikir pasti itu area adalah area parkir, kemudian Saya melongok ke dalam dan di sebuah area yang besar tersebut terdapat sebuat pendapa ditengah-tengah terbuat dari kayu, dan disisi kiri terdapat tempat berlatih panahan.

Magnificent Gate connecting to Kraton from Alun Alun Kidul

Kemudian kami berjalan terus memasuki lapangan berpendapa ini sampai lah kami di gerbang selanjutnya, dan penghuni di lapangan ini yang ramah mempersilahkan untuk masuk ke gerbang ini jika kami ingin tau ada apa dibelakang benteng, dan ternyata ini adalah pintu belakang dari Kraton Yogya, knowing that this one is the back entrance, we literally have this gate for ourselves, there was nobody here except the inhabitants oh this area, and we just simply amazed with the structure, berjalan diantara tembok besar, membayangkan jaman dahulu ketika kerajaan ini berjaya, sangat indah.

Dari tembok besar itu tibalah kami di sebuah area dimana terdapat beberapa orang Abdi Dalem yang sedang membuat gunungan untuk Garebeg Besar keesokan harinya tanggal 2 September dalam rangka Idul Adha, di area ini kembali terdapat sebuah pendapa dalam ukuran sedang, yang sepertinya digunakan untuk kegiatan bakti jika ada upacara, di kiri ada jalan yang menuju ke area publik juga terdapat restoran yang bernama Bale Raos, setelah pendapat tersebut terdapat pohon beringin lebat yang membuat area ini terlihat adem dan teduh, disitu pula terdapat gerbang lain dan juga tempat istirahat para Abdi Dalem Kraton, gerbang ini dinamakan Bale Roto, gerbang bagian belakang dari Kraton Yogya, gerbang berwarna hitam ini dijaga oleh para Abdi Dalem, dan kami sempat berbincang dengan salah satu dari mereka dan bertanya tentang tulisan yang tertera di atas gerbang ini, Bale Roto.

082
Abdi Dalem Kraton di Bale Roto

Menyenangkan sekali beristirahat dan menikmati area Bale Roto ini, sepi, adem dan nampak sangat indah walaupun sederhana karena tidak semegah pintu masuk utama Kraton.

#weekender #travel #traveling #travelgram #kratonyogya #yogya #yogyakarta #jogja #jogjakarta #indonesia #kraton #palace #palais #javanese #culture #budayajawa #hamengkubuwana #kasultananyogyakarta #sejarah #arsitektur #architecture #bangunanlama #heritage #saveheritage #design #historicalplace #historicarea

Another Weekend Hangout in Bali

Best friends stayed over, rolling around the island, lots of laughs and bullies, all and all weekend is always a good idea…here are some discoveries and stories from last weekends…

Newest and hippest to be boutique hotel just recently opened for business, located in Seminyak area (where else?!) hotel ini merupakan additional hotels to IHG (InterCOntinental Hotels Group) in Bali, namanya Hotel Indigo Bali, waktu saya kerja di IHG dulu, Saya selalu berfikir bahwa hotel ini adalah hotel dengan konsep yang sangat “cool”, karena they are trying to present a particular culture where the hotel itself located, contoh nya kalau di Seminyak, yah budaya/gaya hidup “Seminyak” nya yang ditonjolkan.

This is such a cool hotel indeed, design nya sangat dipikirkan, lobby lounge nya very strikingly beautiful, terinspirasi dari Bale Banjar, design nya sangat eklektik, campur-campur tapi sangat harmonis, berbagai tempat duduk yang berbeda, lampu gantung yang terinspirasi dari “bubu” alias sankar untuk menangkap ikan di Bali/Indonesia, once you stepped into this huge lobby from afar you will see the ocean, Pantai Double Six atau lebih ke arah Pantai Gado Gado sih…

IMG_6607
Hotel Indigo Bali, Lobby Lounge

Unsur kayu sangat kuat ditampilkan distruktur bangunannya, even they have a cool reception area for guests to check in dengan meja motif “poleng”, very awesome!

Some details at the lobby also pretty interesting, sangat instagenic!

Ah well, our weekend ended hanging out by the beach at Segara Village Resort in Sanur, and we did sort of taking pictures nyontek blogger-blogger jaman sekarang πŸ™‚ Thanks Lisyeu for your stunning pictures HAHAHA…

IMG_6584

A Quaint Little Town Called Klungkung

I can never get enough of weekends in Bali, weekend selalu kunanti haha…last couple of weekends I had besties stay over and we did some hangout even we visited Klungkung, a quaint little town with so much history.

Here we go, we do throwback ya to last weekend…the idea is to visit Klungkung Regency just to visit their traditional market then makan siang di Ubud seperti biasa di Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku, my fave one! Β For those who loves kain tenun ikat dan songket juga sejarah, a short visit to Klungkung now Semarapura will not disappoint you at all, kita bisa melihat ragam kain tenun di pasar Klungkung juga songket Bali yang indah, rasa pingin beli semua kain πŸ™‚

I have been to this lil town pretty often tho, but I always always always wanted to have a quick peep to their heritage buildings such as Kertha Gosa & Puri Agung Klungkung, let me tell you again the story of this beautiful legacy…

IMG_6649

Kertha Gosha, bangunan bersejarah ini terletak tepat ditengah-tengah kota Klungkung, bangunan ini pada dasarnya bagian kecil dari istana yang didirikan sejak kurang lebih tahun 1700 sebagai Puri Agung atau tempat tinggal Raja oleh Dewa Agung Jambe I yang merupakan Pangeran dari keturuanan Raja Raja Tua dari Kerajaan Gelgel, Kerajaan Klungkung dinilai merupakan kerajaan yang memiliki ranking tertinggi dan salah satu yang terpenting dari 9 kerajaan di Bali.

Kertha Gosha Klungkung Regency
Old Palace Gate at former Puri Agung Klungkung

Gambar diatas adalah salah satu gerbang menuju ke istana yang tersisa, Puri Agung Klungkung hampir hancur ketika Belanda menaklukkan kerajaan Klungkung pada tahun 1908, dan yang tersisa sekarang hanyalah gerbang indah ini dan Bale Kambang juga Balai Pengadilan yang dinamakan Kertha Gosa.

Jika diperhatikan secara seksama detail patung pada gerbang ini, terlihat beberapa patung yang sangat menarik berupa patung dengan rupa orang Eropa atau Belanda di sisi kanan dan kiri nya, mungkin ini sebagai bentuk dari mulai masuknya orang Eropa ke kerajaan Klungkung, rasanya adem sekali hanya duduk duduk di Bale Kambang atau teras museum nya, sekarang Kertha Gosha nampaknya dipelihara dengan baik dengan menambakan elemen modern dalam bentuk tulisan besar KERTHA GOSA, kita bisa menikmati gambar-gambar indah di ceiling dari Bale Kambang atau Bale Bengong, yang merupakan gambar bergaya Kamasan, bercerita mengenai berbagai hukuman setelah mati dan cerita mengenai karma.

Kertha Gosa Klungkung Regency
Kamasan Style

Selain lukisan di langit-langit, hal lain yang bisa kita kagumi adalah detail dari bangunan yang berupa ukiran-ukiran halus khas Bali.

Kertha Gosa Klungkung Regency
Unicorn perhaps?
Kertha Gosa Klungkung Regency
Salah satu ukiran pada pintu gerbang istana

Puri Agung Klungkung yang sekarang berdiri di sebelah barat, didirikan pada tahun 1929, dan hingga saat ini masih menjadi kediaman resmi dari Raja Klungkung dan keluarga, dan bahkan masih sebagai pusat budaya di kota kecil ini, bangunan yang memiliki pintu masuk yang indah ini penuh ukiran yang halus, menghadap ke Alun Alun Kota Klungkung/Semarapura, yes you may peek inside and enjoying the old photographs shown at Pendapa, foto-foto dari masa lalu ini somehow feels like dreamy, you can tell that each of the photographs can tell you some story, and I always intrigue to know what’s behind those closed door, might be very interesting, tapi sayang karena bukan rumah saudara Saya, langkah Saya yah terhenti sampe ke teras pendopo yang berisi foto-foto tua tersebut.

IMG_6655

Next time, I will visit more Bali’s historical sites especially the one rich with great architecture and history!

#history #sejarah #architecture #arsitektur #heritage #saveheritage #puriagung #puriagungklungkung #kerthagosa #budayabali #klungkung #semarapura #indonesia #bali #nakbali #palace #palais #istana #pasar #pasartradisional #traditionalmarket #pasarklungkung #kain #kainendek #tenun #atbm songket #songketbali

Weekend is Always a Good Idea

Canggu Boy on the weekend

I do longing for weekends every single weeks…I love to daydream, wander around the island (well mostly Seminyak, Canggu area) and just hit some cafes and start to daydream…

Last couple of weekends were busy as I have best friends coming over and some of them also stay at my pad yeayyy…

In Bali, every weekend you’ll discover new places, or sometimes and for me in particular I can always “found” another story even though you went to the same place, perhaps that’s what I called now “comfort place” in Bali, speaking of which, Yamuna Homemade Pastry & Dietry is one of those “comfort place” for myself, I know is super far from where I am staying now which is in Bukit Ungasan and Yamuna located in Umalas/Bumbak area closer to Canggu…Jauh banget!

Located on Jalan Tegal Cupek II, the best way to reach this place is from Umalas II then you turn right to Bumbak Dauh, just go straight ahead and you’ll reach those small street, or if you need a map try to locate The Kahyangan Dreams Umalas as this place just across the villa :), Yamuna only opens its door every weekend (Fri – Sun) from 12 PM till around 7 PM however depends on the guests or the lovable owner can be longer…unless if he is tired and need to go to bed soon then they closed at 7 PM πŸ™‚

Tucked in behind a traditional Indonesian door called “gebyog” once you stepped in you’ll find a water healing sound therapy and lush small garden with chairs and tables in every corner, I did make a count and it fit for 12 guests πŸ™‚ the main building is a knockdown wooden house, on the first floor is the area where you can order the cakes and tea and kitchen where they made the heavenly sweets, while (oh this one is such a dreamy concept) the second floor is a private area for the owner, it’s his bedroom too.

If you like all things sweets, you most probably love this place, I, myself love their cake called Early Pillow and Snickers, they do not serve coffee they only serve tea and they do have TWG, yeap TWG, not so many tearoom in Bali and this one can be your option! (IG : @yamunapastry)

Last Saturday, I was also bringing my besties to hangout in Canggu, first stop a brunch at MyWarung, a cool warung serve mainly western food but they do also have great Nasi Goreng with Michelin Star Chef, and also own by friends of mine, a pretty laidback dining place with great food I might say, hey have indoor and outdoor seating area, just pick whether you want to have a cooler air from aircon or just sitting outside while people’s watching and mobil mobil dan motor motor watching lah πŸ™‚

I love their Nasi Goreng, K Burger and L’Entrecote, MyWarung is located on Jalan Subak Sari No. 80 in Canggu just after the Desa Seni Resort on the right hand side if you are coming from Petitenget/Seminyak/Kerobokan.

The privilege of living on this island is, you can easily find a cool place to hangout by the beach with sort of like a laid back ambiance but still very much well designed, last weekend we went to catch the sunset at this beach house called The Lawn Canggu, with mostly off white interior and touches of green from the plants or from the artificial grass without being tacky, you’ll find yourself laying down on it under the white parasols, ah well simply adorable…yet you’ll see boys with great abs and chest LOL walking around the lawn, oh what a sight for sore eyes!

The Lawn Canggu located just next to Old Man’s on Pantai Batu Bolong!

Another week to kill before next weekend with another discovery!

#weekendinbali #bali #indonesia #jaenidupdibali #beachlife #lifeisabeach Β #islanlife #balilife #myhome #pulaubali #beachclub #beachhouse #tearoom #comfortplace #cakes #beach #pantaibatubolong #canggu #mywarung #yamunapastry #thelawncanggu

 

 

 

 

Kota Bandung Adalah Charles Prosper Wolff Schoemaker

Charles Prosper Wolff Schoemaker, not only he is a great architect but also a sculptor

Kemaren, Saya sempat membahas suatu gedung indah di kawasan Lembang Bandung bernama Villa Isola yang sekarang menjadi Bumi Siliwangi dan berfungsi sebagai Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.

Hal yang belum Saya bahas secara mendalam adalah sang arsitek Villa Isola yakni C.P.W Schoemaker, Googling kesana kemari dan sangat menyenangkan karena ada banyak cerita yang cukup lengkap mengenai sosok arsitek ini di Wikipedia maupun di sumber-sumber lainnya dan cukup konsisten kontennya, sehingga retelling the stories of this “Frank Lloyd Wright-nya Nusantara” cukup mudah.

Let’s Get LOST & WANDER

Lahir di Banyu Biru, Semarang Jawa Tengah pada tahun 1882, menghabiskan masa hidupnya di kota kecil tersebut sebelum akhirnya beliau melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda tepatnya di Breda, pada tahun 1905 beliau kembali ke “tanah air” dan bekerja di Royal Dutch Indies Army sebagai military engineer, tapi rupanya yang mengubah haluan beliau menjadi lebih menekuni arsitektur dan bangunan sepertinya sejak beliau pada 1911 bergabung menjadi insinyur untukΒ Department of Civil Public Works di Batavia and became the Director of Public Works in 1914 (Wikipedia), tahun 1917 CPW Schoemaker bergabung dengan sebuah firma yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajak ke Amerika Serikat yang kemudian dari situlah CPW Schoemaker mendapatkan banyak pengaruh dari Frank Lloyd Wright.

Banyak sekali gedung peninggalan CPW Schoemaker terutama di Bandung, ciri khas dari design beliau adalah sangat kental dengan Art Deco yang kemudian memasukkan pengaruh budaya Nusantara ke hampir setiap design bangunan nya, mulai dari bentuk atap, ornamental yang menempel di dinding atau facade dan seterusnya.

Semenjak tahun 1918 bersama saudara kandungnya CPW Schoemaker mendirikan firma arsitek yang kemudian menciptakan banyak sekali gedung-gedung ikonik di kota Bandung, seperti Villa Isola, Gedung Pasteur, Gedung Merdeka, Gereja Katedral Bandung, dan masih banyak lagi.

Rumah beliau sendiri berada di Jalan Sawunggaling Bandung, yang sekarang berubah menjadi sebuah kantor Bank swasta, dahulu sempat menjadi kontroversi karena hampir saja diratakan dengan tanah, however it survived and even became UNESCO Heritage.

Would probably C.P Wolff Schoemaker house

Namun keberadaan rumah ini juga masih sempat menjadi tanda tanya, apakah ini benar rumah beliau atau rumah ciptaan salah satu arsitek bernama Van Oyen, namun juga jika dilihat dari ornamental yang terdapat di rumah tersebut memang sangat ke-CPW Schoemaker-an, seperti terdapat ornamen Kala (Buto Kala) pada bagian depan rumah ini, dan disalah satu tulisan disebutkan, sebenarnya rumah beliau berada di Lembang, berdasarkan surat beliau yang dikirimkan melalui alamat kirim surat tersebut kepada keponakannya, dibawah ini adalah foto dari rumah tersebut.

Would also probably the house of CP Wolff Schoemaker in Lembang Bandung

Anyway, mari kita bahas beberapa bangunan ikonik yang masih tersisa di Bandung maupun yang barangkali sudah luput dari kita.

Pertama, Villa Isola yang dibangun pada tahun 1932 dan selesai pada tahun 1933, bangunan ini merupakan private mansion seorang media tycoon bernama Dominique Warren Berretty, sangat indah, dan dikabarkan bahwa bentuk nya terinspirasi dari candi-candi yang berada di Jawa Timur dan memakai filosofi poros utara selatan untuk bangunannya seperti filosofi Jawa dalam membangun sebuah keraton, sekarang bangunan ini menjadi kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (dahulu IKIP Bandung).

Beautiful Villa Isola now Bumi Siliwangi in Lembang Bandung

Bangunan lainnya adalah, Gereja Katedral Santo Petrus or Saint Peter’s Cathedral on Jalan Merdeka Bandung yang dibangun pada 1921.

a8c4a5adb1db3353ed3e9bc48ae2c786

Bangunan ketiga adalah bangunan megah yang sekarang menjadi Markas Besar Tentara Indonesia KODAM III Siliwangi, yang dahulunya adalah Paleis van de Legercommandant (Istana Panglima Pasukan Hindia Belanda) bangunan bergaya Art Deco ini dibangun pada tahun 1918 oleh CWP Schoemaker dan kakaknya yakniΒ Richard Leonard Arnold Schoemaker (1886-1942), dan selesai dalam waktu 2 tahun, dan di komplek yang sama tepatnya di Jalan Kalimantan (sementara itu Istana Panglima berada di Jalan Aceh), terdapat Departemen Pertahan Hindia Belanda yang lebih bergaya klasik Eropa, jika melihat gedung ini benar-benar mengingatkan gedung-gedung yang berada di Belanda, sangat cantik seperti kue hias, gedung ini sendiri di design oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker, dan bahgia rasanya bahwa kedua gedung ini sampai sekarang masih seperti aslinya tida perubahan yang berarti.

Paleis van de Legercommandant now KODAM III SILIWANGI on Jalan Aceh Bandung

 

Departement van Oorlog, or Departemen Pertahanan Hindia Belanda on Jalan Kalimantan

Gedung lain yang sangat menarik secara design adalah gedung ke-empat berikut ini, yang dahulu dinamakan Jaarbeurs, gedung khusus pameran pada masa Hindia Belanda, gedung ini amat sangat mengingatkan Saya pada design Frank Lloyd Wright dengan detail 3 laki-laki telanjang membungkuk di facade bangunan tersebut yang sangat sayang disayang, sekarang ornamen indah tersbut ketika kemarin pulang kampung Saya lewat gedung ini sudah ditutup oleh panel berisi tulisan, sedih rasanya dan sulit memahami pola pikir sebagian kecil orang yang melihat karya seni hebat ini jadikan objk yang barangkali menurut mereka porno-aksi, mestinya yang mereka tutup pake panel kayu itu otak mereka bukan karya seni indah tersebut. Β Bangunan ini di design oleh CP Wolff Schoemaker dan dibangun pada tahun 1920 dan sekarang dijadikan kantor KOLOGDAM (Komando Logistik Daerah Militer III Siliwangi).

Jaarbeurs Bandung

 

Selain Gedung KOLOGDAM yang indah ada gedung lain karya CP Wolff Schoemaker yang juga sangat menarik, yakni Masjid Raya Cipaganti, cerita yang menarik saya baca di artikel terbitan koran Pikiran Rakyat mengenai masjid indah ini, Masjid Raya Cipaganti diresmikan pada 27 Januari 1934 dan dibangun pada tahun 1933 dan merupakan karya CP Wolff Schoemaker dan merupakan wujud cinta beliau terhadap Islam yang merupakan agama yang beliau peluk sejak than 1930, arsitekturnya mengadaptasi gaya Eropa dan Jawa terlihat dari ata sirap nya, Masjid ini adalah satu-satu nya dan masjid pertama yang berada di kawasan pemukiman orang Eropa pada masa itu dan sebagian bangsawan pribumi. Β Masjid ini ternyata memiliki sejarah cukup unik dan multi ras dan agama yang terlibat melatarbelakangi sejarahnya, selain CP Wolff Schoemaker yang seorang Belanda dan mualaf yang menarik adalah yang mewakafkan tanah untuk pembangunan ini adalah seorang wanita Sunda bernama Nyi Oerki! Nyi Oerki ini adalah istri dari seorang pengusaha susu, cokelat dan pengacara berdarah Italia bernama Antonio Ursone seoarang Katolik yang taat dan kalau tidak salah jika kita sempat jalan ke Pemakaman Belanda Pandu kita bisa melihat makam keluarga Ursone ini, what a story!

Masjid Raya Cipaganti Bandung

Mari kita jelajahi lagi hasil karya lain dari CP Wolff Schoemaker yang lain yakni Gedung Merdeka, yang dahulunya bernama Societeit Concordia tempt berkumpul para warga Belanda untuk bersantai dan bersosialisasi dan kemudian menjadi tempat penyelenggaran Konferensi Asia Afrika Thun 1955, Gedung Merdeka dengan design yang seperti sekarang ini dimulai pada tahun 1926, walaupun sebenarnya gedung Societeit Concordia sudah berdiri sejak tahun 1870. Β Arsitek lain yang mendesain bangunan ini selain beliau adalah A.F Aalbers (10 tahun ketelah Schoemaker melakukan perubahan dari design lama).

376Concordia

Gereja lain yang dibangun ole CP Wolff Schoemaker adalah Gereja Bethel, gereja yang masih memiliki bentuk aslinya sampai sekarang ini dan berada dekat Kantor Walikota Bandung, dibangun pada tahun 1 Mei 1924 dan diresmikan pada 1 Maret 1925 dan diberi nama “De Nieuwe Kerk” yang menarik dari gereja ini tidak ada penampakan salib di bagian luar bangunan ganha ditandai oleh jam dan lonceng yang berdentang pertama kali pada 1 Maret 1925 pada pululam 09.15 pagi.

24058-bandung_kostel_24-v-1929

Karya monumental lain adalah Grand Hotel Preanger di Bandung, hotel yang sangat kental dengan gaya Art Deco ini merupakan hasil karya rombakan dari CP Wolff Schoemaker dibantu oleh murid nya bernama Soekarno, pada tahun 1929, jika sempat datang dan masuk ke hotel ini, mereka memiliki museum kecil yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi, tapi tidak banyak orang tahu keberadaan museum ini.

Grand Hotel Preanger Bandung

There are so many great buildings made by him, from Bioscoop Majestic or Bisokop New Majestic atau yang dahulu bernama Bioscoop Concordia di Jalan Braga No. 1, Gedung Pasteur, Aula Timur & Barat ITB, Gedung PLN Bandung, hingga Villa Merah ITB di Jalan Taman Sari.

Charles Prosper Wolff Schoemaker menutup mata selamanya pada usia 66 tahun tepatnya pada 22 Mei 1949 dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu Bandung, beliau meninggalkan banyak sekali bangunan indah yang memadukan unsur Eropa dan Nusantara secara harmoni.

 

#saveheritage #heritage #oldbuilding #oldmansion #cpwschoemaker #charlesprosperwolffschoemaker #bandung #arsitektur #architecture #sejarahbandung #bandungtempodoeloe #fortheloveofoldbuildings #wanderlust #lostandwander1976

 

 

 

M’ISOLO E VIVO (I Isolate Myself & Live)

Villa Isola

It feels like dreamy seeing old pictures of Villa Isola in Bandung, a beautiful Art Deco structure, a masterpiece of a grand mansion.

Villa Isola mulai dibangun pada bulan October 1932, dan mulai digunakan oleh pemiliknya pada tahun December 1933, arsitek dari rumah peristirahatan indah ini adalah Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Pemilik dari Villa Isola yang merupakan private house ini adalah seorangan pengusaha kaya raya alias media tycoon asal Belanda bernama Dominique Willem Berretty (1890 – 1934), a handsome business man the founder of Aneta press agency in Dutch East Indies alias Nusantara pada masa itu.

Dominique Willem Berretty

Villa Isola menempati lahan seluas 120.000 meter persegi, yang meliputi bangunan utama dan taman maha luas, bayangkan saja pada masa itu dimana Lembang, Bandung merupakan daerah “jauh” dari pusat kota Bandung dan berada diketinggian, villa ini menjadi landmark indah kawasan ini.

Aerial picture of Villa Isola, Bandung

Dikabarkan pembangunan private house ini menghabiskan dana sekitar 500.000 guilders and he almost went bankrupt, however the opening of his majestic house was in a pompous celebration with guests coming from journalists and his friends and colleagues dan tentunya beliau sangat bangga dengan rumah pribadi nya tersebut, dan diceritakan bahwa tamu-tamu berdecak kagum dengan detailnya dan kualitas dari bangunan ini.

Rumah indah ini memiliki banyak ruangan, seperti ruang resepsi, ruang makan, ruang billiard yang sangat luas sebagai ruang rekreasasi, ruang belajar, ruang tidur, ruang keluarga dengan balcony, teras teras terbuka juga bar yang dilengkapi dengan movie projector untuk menonton film, this is like those kind of billionaire house at that time.

Ruangan-ruangan tersebut diisi dengan furniture yang modern dan bergaya Art Deco, dilengkapi dengan coat of arms kota Venice yang sengaja dibawa dari Italia (yang sekarang masih bisa dilihat di gerbang masuk ke Vila Isola/Bumi SIliwangi) sampai lukisan karya pelukis terkenal di Hindia Belanda dan Eropa.

Seeing this pictures surely made you feel like you are stepping into this grand house, all furnitures has been carefully chosen from the living room to study room to bedrooms.

Villa Isola memiliki details bangunan yang tidak main main, sang arsitek CP Wolff Schoemaker terinspirasi dari filosofi budaya Jawa, orientasi bangunan berdasarkan teori sumbu utara – selatan, dengan bangunan menghadap ke Gunung Tangkuban Perahu di Utara dan Kota Bandung di Selatan, bangunan berundak (layering) juga terinspirasi dari Candi di Jawa Timur, semua dibuat simetrikal termasuk juga garden landscape.

Villa Isola

Lantai satu terdiri dari ruangan-ruangan seperti lobby dengan tangga ke lantai dua, ruang keluarga dan ruang tamu, sedangkan lantai dua merupakan kamar utama, lantai tiga ditempati oleh guest rooms juga entertainment room sedangkan lantai empat adalah service area, dimana hal baru pada masa colonial, biasanya service area terpisah dari bangunan utama.

zuidgevel
Spectacular view of building seen from the pool

 

00_big
The main entrance to the lobby

Sementara itu taman dibuat sedemikian rupa, very symmetrical and the mansion itself as the centre piece, they are adopting the European Style garden, with imported five black swans from abroad to garnish the pond.

Sayang disayang, rumah pribadi yang indah ini tanya bisa dinikmati oleh Dominique Willem Berretty hanya dalam satu tahun (bahkan tepat satu tahun), beliau meninggal dalam kecelakaan pesawat di Syria pada December 1934 penerbangan Batavia ke Amsterdam.

Sekarang, gedung indah ini tetap digunakan dengan baik oleh IKIP Bandung yang sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia.

Ayo kita jaga dan ketahui lebih banyak tentang sejarah bangunan tua di negeri ini, karena kita bisa belajar banyak dari sejarah dan warisan arsitektur nya.

M’ISOLO E VIVO!

M'ISOLO E VIVO

Data dan cerita dari berbagai sumber.

#saveheritage #villaisola #villaisolabandung #artdeco #oldmansion #oldbuilding #oldhouse #cpwschoemaker #architecture #arsitektur #hindiabelanda #dutcharchitecture #cagarbudaya #bandung #westjava #indonesia

 

 

Weekender in Bali

Kalau orang bertanya sama orang Bali tau orang yang hidup di pulau ini, “Ngapain aja sih every weekend in Bali?” and my answer would be…endless fun and discoveries, as long as your immerse yourself to the way we are “Balinese” live our life, go out, get lost, just sip coffee somewhere, no one will judge you, that’s the best thing about Bali.

Weekend kali ini cukup berbeda karena ada teman-teman lama yang juga sedang berlibur di Bali dan mentant penghuni pulau tercinta ini dan Saya seperti biasa jalan-jalan pakai Scoopy Saya dan kemarin misi nya adalah mencari tanaman hias untuk rumah ke area Renon dan to this cute place called Republic of Plants, toko baru mereΓ§a gerada di Jalan Mertanadi lebih besar dan luas hanay koleksi pot/keramik lebih sedikit, jadi buat kalian yang bertujuan mencari pilihan mugs/bowls/anything buat succulent kalian you must still visit their shop in Banjar Semer area (on the way to Canggu through Kerobokan), here is just to share with you some of the pictures from Republic of Plants (IG : @republicofplants)

Hidup di Bali itu yang paling menyenangkan adalah sell ada tempt baru yang keren dan sangat worth Instagram feed, everything seems cuter and nicer here in this island, last night we spend our night at this hotel called TIJILI in Japan Drupadi Seminyak area, it’s color burst everywhere, you feel this kinda ecstatic kinda feeling when you stepped into this place, outsider is more than welcome to hangout at their KAKATUA Tropic Lounge just to sip coffee or some cocktails, I should comeback again here on midday just to take another pics…here is some picture from last night…

Hampir setiap minggu we can just easily found cute things to share around Bali, oh yah end of this July there will be Tropica Fest, festival mural di sekitaran Canggu yang melibatkan para seniman Indonesia dan Dunia.

#balilife #islandlife #mural #cafe #republicofplants #kakatuatropiclounge #bali #indonesia #wanderlust #jaenidupdibali #design #interior #weekend #weekender #akhirpekan #pulaudewata

 

 

Throwback Thursday…A Cool Hostel Called We Crociferi in Venezia

We Crociferi at Campo dei Desuti, Carrnegio Venezia
An ancient convent turned student accommodation in Venezia

Some cities they call themselves as vibrant, some romantic and even mysterious, but for me Venezia seperti kota dalam “mimpi”, all those old structures, the lights upon it, it takes you to a daydream every day every night πŸ™‚ I will tell you more later on, but now let’s talk about my finding…We Crociferi Hostel.

I gotta a chance to visit Venezia last year 2016 due to the opening of our newest T Galleria in Italy, T Fondaco dei Tedeschi, ketika itu kantor seperti biasa sudah memiliki appointed hotel untuk tinggal, yang lokasi nya tepat sebelah kantor kami.

Tapi karena Saya sangat particular urusan hotel atau tempat tinggal, maka saya memutuskan untuk memilih sendiri hotel dimana Saya akan tinggal semalam 11 malam di kota “mimpi” ini.

No it is not those kind of hotel, it’s a hostel, and they call themselves as student accommodation, uni staff and yeah travelers like me who loves into exploring off beaten track area.

Hotel ini ditemukan tidak sengaja melalui Google, dan Saya langsung jatuh cinta dengan bangunannya, karena merupakan bekas biara/convent kuno, jika merunut ke kisah Gereja di sebelahnya yakni Church of Santa Maria Assunta, convent ini merupakan bagian dari Gereja indah tersebut, ada gereja, biara dan rumah sakit…Gereja sendiri sudah ada sejak 1155 Masehi, dan kemudian beberapa ratus tahun kemudian dibeli oleh Ordo Jesuit pada tahun 1657, sejak lama bangunan yang merupakan bagian dari Gereja Santa Maria Assunta ini sudah menjadi barak, dan asrama bagi biarawan dan pelajar.

Landed di Bandar Udara Marco Polo Venezia, the right thing to reach the island is by boat, Saya dan kolega dari kantor kemudian naik boat yang sama, menariknya karena Saya tidak tinggal satu hotel dengan mereka mengharuskan Saya turun lebih dulu di Fondamente Nove, sebuah pier kecil tempat water taxi berlabuh menurunkan penumpang untuk area Campo dei Gesuiti, menilik sejarahnya ada alasan mengapa mereka membangun Gereja ini jauh dari pusat nya Venezia, dikarenakan konflik yang terjadi ratusan tahun yang lalu sehingga Ordo Jesuit “dibuang” agak sedikit jauh dari pusat keramaian kota Venezia (ke pusat hanya 10 – 15 menit berjalan kaki).

Sampai di pelabuhan kecil, dan berjalan menuju ke We Crociferi dengan melalui bangunan-bangunan indah di pinggir laut, rasanya sangat indah sekali seperti “mimpi”, melewati jembatan sedikit besar yang berundak yang kemudian setelah beberapa puluh meter belok ke jalanan dimana Gereja Santa Maria Assunta dan We Crociferi berdiri, it was such a lovely feeling…sea breeze, old buildings, stone pebbles, canals, all and all it was lovely.

Here is some picture from We Crociferi that I took…

The room itself it’s awesome, a minimalist one, kinda Scandinavian style all the way, with all white and touch of light wooden fixtures as details, kamar-kamar menempati bangunan bekas ruangan/kamar-kamar biara, bagian luar dibiarkan tetap seperti asli nya, dan bagian dalam dibuat se-cozy dan modern mungkin, sehingga tidak akan merasa ngeri tinggal di bangunan yang usia nya sudah ratusan tahun ini.

Bahkan di beberapa tempat dikarenakan plester di buka, kita bisa melihat struktur-struktur bangunan masa lampau, sangat indah, ada bagian favorite Saya di hostel ini, yaitu ruang makan atau breakfast dikarenakan menempati sebuah aula yang bagian dinding dan langit-langit nya dilukis sangat indah bergaya klasik dan merupakan wujud asli dari ruangan tersebut hanya saja dilakukan restorasi, bagian favorite lain nya adalah tangga menuju lantai 2 dimana kamar saya berada, tangga tersebut juga memiliki langit-langit yang indah dengan lukisan bergaya klasik kisah tentang malaikat, dan berada tepat di sebelah kanal, seperti “mimpi”…I will definitely come back and stay in this student accommodation again when I am back in Venezia in the future…

Next to the accommodation, berdiri megah Gereja tua bernama Santa Maria Assunta, mengutip sumber dari internet (www.churchesofvenice.co.uk), Gereja ini sudah ada sejak tahun 1155, hanya saja mengalami beberapa perubahan dan bentuk terakhir ini adalah dari tahun 1715 – 1730 oleh arsitek bernama Domenico Rossi yang merupakan arsitek kesayangan keluarga Manin, keluarga yang menyokong pendanaan pembangunan Gereja ini, sehingga mereka pun dikuburkan di Gereja indah ini.

SubstandardFullSizeRender (14)

 

The faΓ§ade is as overpopulated as you’d expect from a Baroque church in Venice. It is said to be the work of Giovanni Battista Fattoretto, probably to an original design by Rossi. On the first level there are statues of the apostles who witnessed the Assumption of the Virgin, by various sculptors. The Virgin passing into Heaven, with angels with robes billowing in the wind above the pediment, are by Giuseppe Torretti. The Manin coat of arms is over the doorway. Ludovico Manin being famously the last doge of all – the one who handed Venice over to Napoleon (from : http://www.churchesofvenice.co.uk).

All and all it’s a beautiful church, dan bayangkan jika kamu adalah seseorang yang suka sekali dengan bangunan tua dan bersejarah, you are literally living inside this church and convent, setiap hari dan setiap saat kita bisa datang mengunjungi dan mengagumi indahnya gedung ini.

Seperti “mimpi”!

#venezia #venice #italy #italia #church #oldbuildings #saveheritage #heritage #architecture #lostandwander #santamariaassunta #campodeigesuiti #travel #traveler #traveling #travelgram #instagram #instaplace #gereja #architecture #arsitektur #design #wecrociferi #hostel #studentaccommodation #hotel #wanderlust #historicalsite #historical #history #italiano #italian

 

Journey To Pulang Kampung A Latepost

Pulang Kampung ke Bandung, tentu agenda nya adalah kumpul bersama sahabat melepas kangen dan ngobron “anu teu penting”, dan rekor buat kita di hari ke-2 Lebaran kita berhasil mengunjungi 6 titik dalam satu hari πŸ™‚

Berikut adalah sebagian hasil kemaren Pulang Kampung mengunjungi beberapa cafe,sayang cafe favorit tidak sempat Saya abadikan kali ini πŸ™‚ yakni Blue Doors yang ada di Jalan Gandapura Bandung, cafe kecil yang rasa kopi nya cukup enak dan cocok buat kami ini πŸ™‚

Well, this post would be in random order yah…Kiputih Satu is one of those cafe that I always wanted to visit due to the venue itself used to be an old Colonial mansion, Kiputih Satu located on Jalan Kiputih No. 1, cafe + ceramic shop/studio + vinyl store + merchandises store…painted in white, this old house jaman Belanda is such a charming house, Β I can imagine in 1920s this house would be one of those cool house up on the hilly Ciumbuleuit Bandung.

Tempat ngopi lain yang sempat Saya kunjungi bersama geng Sunda Weureu juga adalah MIMITI Coffee yang berada di area Setiabudi Bandung,ah area ini punya banyak kenangan buat kami, well the coffee here is good, and the way they made this coffee shop it reminds you to those Japanese coffee shop, all and all it’s nice place to hangout however it was bit cloudy so we did not get cool lights when we took some picture here…

SEJIWA, what a poetic name for a hip coffee shop in Bandung, with some murals and lyrical poem from a famous Indonesian poet Sapardi Djoko Damono, the building itself is a standalone building on Jalan Progo just next to Β Gedung Sate, painted in white with glass windows from top to bottom, this SEJIWA has a good coffee however pretty noisy and crowded as now is the IT place to hangout especially for millennials…

SYDWIC, a kinda Scandinavian cafe on Jalan Cilaki, selalu penuh dan antri, I love the interior, it’s warm and fresh, very instagramable and I love their communal table made from stone/cement and in the middle they put plants, very clever…

Dan tentu tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke Cafe Halaman kesayangan kami,untuk sekedar temu kangen sama Bakmi Tasik maupun tempatnya yang penuh cerita…next time I will start to write things that I found here in Bali πŸ™‚

Let’s get back to work HAHAHA